Dari Buku Raja Bambang Sutikno
Riaumag.com , Jakarta
Manusia terdiri dari jiwa dan raga dimana jiwa dan raga itu adalah makhluk spiritual. Manusia sejati merupakan spiritual person. Dan buku ini membahas panjang lebar Kiat Menapak Asa Menjadi SPIRITUAL PERSON dalam kerangka atau bagian tak terpisahkan dari Pencerahan 4Q (Spiritual Quotient, Physical Quotient, Emotional Quotient, Intellectual Quotient)
MOZAIQ KEHIDUPAN
Manusia Sejati =
(PQ X IQ) + (SQ X EQ)
( Physical Quotient x Intelectual Quotient ) +
( Spiritual Quotient x Emotional Quotient )
SELAYANG PANDANG
MAKNA SPIRITUAL QUOTIENT.
Pengertian kecerdasan spiritual atau pencerahan spiritual, yang biasa dikenal dengan SQ (Spiritual Quotient), adalah kecerdasan nurani yang membimbing manusia untuk berbuat kebaikan dan mengembangkan dirinya secara utuh untuk menerapkan nilai-nilai positif. SQ memfasilitasi manusia untuk mengatasi persoalan dan berdamai dengan perasaan serta pikirannya sehingga dia mampu menjaga kebahagiaannya. SQ juga memberi inspirasi kepada penalaran manusia untuk terinspirasi mengambil nilai dan makna dari pengalamannya.
Kecerdasan dan pencerahan spiritual yang berkembang dengan baik, salah satu indikatornya, dapat dilihat dari kepiawaian seseorang untuk bersikap adaptif, yaitu mudah menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi terhadap dirinya dan yang disekitarnya, mampu bertahan dan mengatasi rasa sakit lahir bathin, piawai dalam mengambil hikmah dari suatu kegagalan karena kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.
Kecerdasan Spiritual (SQ) membimbing manusia mewujudkan hidup sesuai dengan visi dan misi mulia, yaitu nurani yang diasah di jalan yang lurus bersama segudang motivasi kehidupan sejati. Nurani yang dicerahkan mampu menangkap frekwensi hubungan dengan Tuhan Yang Mahaesa sehingga mampu secara mandiri membahagiakan perasaan dan pikirannya.
Saya pernah mendengar seorang Ustad menjelaskan: Suara hati atau nurani adalah suara kebenaran yang ditiupkan Tuhan kepada manusia bersamaan dengan peniupan ruh pada jasad ketika masih di dalam rahim. Saya sepakat dengan pendapat bahwa suara hati tidak berbohong dan tak bisa dibohongi. Suara hati nurani memberi berbagai pengaruh positif terhadap jiwa. Jiwa mudah tersentuh kesedihan, terombang-ambing, merasakan duka nestapa, kadang-kadang sampai frustasi. Dalam situasi dan kondisi demikian, suara hati nurani menyentuh jiwa untuk dihubungkan dengan Tuhan Mahapencipta sehingga jiwa kembali merasa tentram, bersahaja dalam naungan kasih sayang illahi.
Potensi besar yang dimiliki manusia, selain kecerdasan phisikal, kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional adalah kecerdasan spiritual. Danah Zohar (Harvard University) dan Ian Marshall (Oxford University) mendefinisikan Spiritual Quotient sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas, kaya dan mendalam; kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain (dikutip dari suatu artikel di internet).
Dengan begitu saya berani menyimpulkan Pencerahan atau Kecerdasan Spiritual menjadi landasan yang diperlukan untuk mengoptimalkan dan mensinergikannya bersama PQ, IQ dan EQ secara integral, efektif dan efisien. Melalui SQ, pemikiran, perilaku dan peri kehidupan manusia diberi makna dan bimbingan menuju Spiritual Person. Kita semua tahu bahwa hidup memiliki arah dan tujuan, bahwa setiap kehidupan memiliki pemaknaan yang tidak sekedar duniawi semata. Nah, disinilah peran SQ menyadarkan serta menggairahkan kita menjalani dan meresapi secara mendalam kehidupan yang hakiki, life and after life.
SQ membimbing manusia mewujudkan hidup sesuai dengan visi dan misi mulia, yaitu nurani yang diasah di jalan yang lurus bersama segudang motivasi. Nurani yang dicerahkan mampu menangkap frekwensi hubungan dengan Tuhan Yang Mahaesa sehingga mampu secara mandiri membahagiakan perasaan dan pikirannya.
Spiritual person memformulasikan dan mengekspresikan dirinya melalui value yang menggema syahdu melalui nurani atau suara hati. Secara ajaib, tak terlihat oleh mata, nurani menempati ruang di relung hati manusia. Ajaibnya lagi, suara hati mampu melintasi ruang dan waktu, ras dan suku bangsa, agama dan aliran kepercayaan. Lebih spesifik lagi, pemaknaan yang mendalam, luas dan lurus terhadap agama yang dianut akan menjadi landasan yang kokoh untuk tumbuh dan berkembang suara hati nurani anak-cucu Adam.
Istilah spiritual quotient sering diartikan sebagai “pencerahan/kecerdasan spiritual”. Pencerahan dan kecerdasan adalah prihal perasaan serta pertumbuhan akal dan cara berfikir yang semakin berkembang dan cemerlang. Spritual berasal dari kata spirit atau juga semangat yakni rangsangan yang kuat dari hati nurani.
Secara teminologis, Spiritual Quotient dapat diartikan sebagai rangsangan pencerahan keagamaan, motivasi dan semangat keagamaan, yang dalam perspektif pendidikan disebut sebagai kesadaran fitrah, berupa nilai-nilai keagamaan yang dibawa sejak lahir. Spiritual Quotient yang pada dasarnya memiliki potensi fitrah manusia memuat aspek kesucian jiwa.
Pendidikan SQ dalam pendidikan agama adalah bimbingan yang dilakukan dalam upaya mewujudkan kepribadian spritual yang cerdas bagi peserta didik. Berarti juga pendidikan SQ lebih mendalam diupayakan pada perbaikan sikap mental yang akan berwujud dalam amal perbuatan, untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Pencerahan SQ pada dasarnya pendidikan iman dan pendidikan amal yang dapat mendekatkan diri pada Tuhan Yang Mahaagung.
Menurut penelitian-penelitian di bidang neurologi, kecerdasan spiritual justru punya tempat di dalam otak. Jadi ada bagian dari otak kita dengan kemampuan untuk menangkap pengalaman-pengalaman spiritual, untuk melihat Tuhan dengan mata hati. Dalam hal ini maksudnya adalah menyadari kehadiran Tuhan di sekitar kita dan untuk memberi makna dalam kehidupan. Namun seseorang yang dikatakan taat beragama belum tentu cerdas secara spiritual. Ada baiknya kita menjawab pertanyaan; Apa yang dimaksud dengan Kecerdasan Spiritual ?
Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan alam sadar, menjadikan kita kreatif ketika kita dihadapkan pada masalah pribadi, dan mencoba melihat makna yang terkandung di dalamnya, serta menyelesaikannya dengan baik agar memperoleh ketenangan dan kedamaian hati. Kecerdasan spiritual membuat individu mampu memaknai mozaiq kehidupannya dalam setiap kegiatannya sebagai ibadah, demi kepentingan umat manusia dan demi Tuhan yang sangat dicintainya.
Spiritual Quotient (SQ) digambarkan sebagai ukuran yang terlihat pada kepribadian seseorang, dalam cara yang sama seperti Intellectual Quotient (IQ) terlihat pada kecerdasan kognitif. Sekarang banyak penulis dan para sarjana mengklaim bahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia yang digunakan untuk memecahkan masalah pada nilai-nilai kehidupan, yaitu kemampuan orang untuk mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai luhur.
Dalam kata-kata Mr. Ram Mohan, seorang guru Vedanta , IQ dan EQ tidak memadai dalam isu-isu tersebut. Kecerdasan spiritual adalah tentang pertumbuhan manusia yang hidup secara dinamis, yang memiliki cita-cita kehidupan dan untuk menyembuhkan diri dari segala kebencian yang menghinggapinya (dikutip dari suatu artikel di internet, search using Google).
Pada dasarnya manusia adalah makhluk spiritual yang berevolusi sehingga bertanya sendiri tentang awal eksistensi dirinya, dan dengan pertanyaan-pertanyaan yang populer “Who am I; Siapa aku? “Why am I created; Mengapa aku diciptakan?” Pencerahan spiritual akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini sesuai dengan pertumbuhan asa menuju spiritual person.
Spiritual quotient memotivasi manusia untuk menyeimbangkan jadwal kerjanya guna menikmati waktu bersama keluarga dan kegiatan hobinya sendiri dengan tetap merawat keseimbangan bathin sehingga bekerja tidak untuk mendapatkan uang saja. SQ benar-benar berbeda dari PQ, EQ dan IQ dalam memecahkan masalah logis. EQ memungkinkan manusia untuk menilai situasi dan berperilaku sesuai dengan emosi yang seimbang , sedangkan SQ bertanya apakah ia layak berada di situasi itu sebelum terlibat di dalamnya, sehingga memungkinkannya memotivasi diri untuk menciptakan suatu situasi baru.
Pada tahun 1990-an penelitian oleh neurophysiologist Michael Persinger dan neurologist VS Ramachandran di University of California mengidentifikasi ‘God-spot’ di dalam otak manusia. Tempatnya terletak disekitar saraf di lobus temporal otak. Ketika diadakan scan dengan emisi positron topografi, daerah saraf tesis menyala setiap kali subjek penelitian yang didiskusikan adalah topik spiritual. (Sumber dari suatu artikel di internet; search using Google).
Dalam asa menuju Spiritual Person, manusia biasanya menemukan situasi, kondisi atau berbagai faktor yang menjadi penghalang dan tantangan, misalnya: lingkungan sosial yang amburadul, terisolasi dari masyarakat apa lagi dari keluarga, menjanda atau menduda, pensiun tak terduga (PHK), kesulitan keuangan sebab menganggur, diremehkan di lingkungan kerja atau rukun tetangga, kondisi lingkungan hidup yang kotor, peristiwa kehidupan penuh stress yang terendapkan atau hari tua yang kesepian. Semua ketidak-beruntungannya ini mungkin akan menjatuhkan harga diri, mengurangi rasa percaya diri dan menggoyahkan keyakinannya terhadap kasih sayang Tuhannya.
(Bersambung)
(rbs/riaumag.com)






















