Riaumag.com – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie mengingatkan bahwa cara orangtua menanggapi pertanyaan anak-anak memengaruhi tumbuh kembang mereka.
Ia berujar interaksi sosial dan keterlibatan sosial termasuk antara anak dan orangtua membuat pembelajaran dalam kehidupan menjadi lebih baik.
Kita tahu bahwa anak-anak sering menanyakan banyak hal bahkan hal dasar sekalipun seperti “Kengapa saya harus makan? Saya tidak lapar kok”. Stella melakukan penelitian dengan bertanya ke orangtua lain bagaimana cara mereka menjawab pertanyaan tersebut.
“Ada beberapa orangtua yang menjawab ‘Makan itu kayak mobil perlu bensin. Mobil perlu bensin, kamu perlu makan supaya bisa jalan kayak mobilnya’,” tutur Wamen Stella dalam acara 2025 International Symposium on ECED yang diselenggarakan Tanoto Foundation di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (17/12/2025). Menurutnya jawaban ini sangat menarik karena membuat perbandingan antara mobil dan anak yang harus makan.
“Ini menciptakan kesamaan berdasarkan struktur. Struktur itu tampak sangat sederhana. Tetapi ketika anak dapat melihat struktur itu, mungkin mereka akan bertanya lebih banyak untuk melihat lebih banyak struktur. Mereka bisa menjadi ilmuwan, mereka bisa menjadi penemu Google. Hanya dengan Anda menjawab dengan cara yang benar,” kata Wamen Stella. “Kalau cuma jawab, ‘Supaya kamu tinggi’, atau lebih parah lagi, ‘Enggak usah tanya-tanya, pokoknya makan’. Itu sebabnya mereka tidak akan bertanya lagi,” ungkap Wamen yang pendidikan sarjananya ditempuh di Harvard University ini.
Sebab, jawaban singkat tanpa perumpamaan logis tersebut tidak membawa pemikiran baru. Stella sebagai peneliti di bidang kognitif menemukan bahwa riset menunjukkan individu manusia yakni orangtua dan guru dapat memberikan penjelasan lebih baik daripada fitur AI.
Ia juga sempat membeberkan penelitian dari rekannya, Profesor Virginia Deloach yang melakukan eksperimen dengan hipotesis bahwa memberi anak-anak tontonan pelajaran yaitu video Baby Einstein dapat membuat mereka pintar. Terdapat tiga kelompok yang diuji. Kelompok dengan hanya orangtua yang memberikan pengajaran kepada anak, kelompok yang anaknya menonton video tersebut dengan tambahan pengajaran dari orangtua, dan kelompok anak yang hanya menonton video tersebut. Hasil penelitian menunjukkan penyerapan ilmu pada anak terbaik terjadi di kelompok yang pengajarnya hanya orangtua.
































