Oleh: Mardianto Manan
RIAUMAG.COM ——-Ada judul buku yang sekadar menjadi nama. Tetapi ada pula judul yang sejak awal sudah mengandung watak penulisnya. Ular Makan Linggis, Menjaga Marwah di Tanah Melayu, autobiografi Brigjen TNI (Purn.) Edy Natar Nasution, menurut saya termasuk yang kedua.
Hari ini, Ahad, 27 September 2026, di Rumah Makan Khas Melayu, buku ini diluncurkan. Judulnya unik, bahkan terdengar ganjil: ular makan linggis. Bagaimana mungkin ular yang tubuhnya lentur justru memakan linggis yang keras dan kaku?
Justru di situlah maknanya.
Dalam cuplikan autobiografinya, Edy Natar menjelaskan bahwa julukan “Ular Makan Linggis” lahir dari cara dirinya memegang prinsip: lurus, kokoh, disiplin, dan tidak mudah dibengkokkan oleh kepentingan apa pun. Bagi sebagian junior atau rekan yang terbiasa dengan fleksibilitas, sikap seperti itu mungkin dianggap terlalu kaku.
Namun bagi dirinya, julukan itu bukan ejekan. Ia justru merasa bangga.
Sebab seorang prajurit, apalagi seorang perwira, tidak hanya diuji ketika berada di medan tugas. Ia juga diuji ketika berhadapan dengan godaan jabatan, kepentingan, tekanan lingkungan dan berbagai kompromi yang perlahan dapat menggeser prinsip.
Linggis adalah simbol sesuatu yang keras. Ular adalah simbol sesuatu yang lentur. Tetapi ketika “ular” sanggup memakan linggis, pesan metaforanya menjadi jelas: ada karakter yang tidak mudah dikalahkan oleh keadaan.
Di sinilah buku ini menjadi menarik dalam konteks Tanah Melayu.
Marwah bukan sekadar kata. Marwah adalah harga diri yang dijaga melalui sikap dan perbuatan. Dalam falsafah Melayu, orang boleh berkuasa, tetapi kekuasaan tidak boleh menghilangkan pegangan. Orang boleh tinggi kedudukannya, tetapi semakin tinggi kedudukan, semakin besar pula tuntutan untuk menjaga amanah.
Maka Ular Makan Linggis bukan semata-mata cerita perjalanan seorang Brigjen TNI (Purn.) Edy Natar Nasution. Ia adalah refleksi tentang bagaimana seorang manusia berusaha mempertahankan garis lurus hidupnya di tengah dunia yang sering meminta kita untuk sedikit membengkok.
Sebab pada akhirnya, jabatan akan berganti, pangkat akan ditinggalkan, dan kekuasaan akan berlalu.
Yang tinggal adalah jejak.
Dan jejak itulah yang menentukan apakah seseorang pernah menjaga marwahnya—atau justru pernah menjualnya demi kepentingan sesaat.




























