RIAUMAG.COM , BANDUNG
Kerakusan (ath-thama’ atau al-hirsh) bukanlah sekadar dorongan memiliki harta, melainkan penyakit iiwa yang mematikan rasa cukup (qana’ah). Jiwa yang terjangkit kerakusan mengalami ilusi fatal, yaitu mengira tumpukan materi akan melahirkan kehormatan, padahal justru menjerumuskannya ke jurang kehinaan.
Rasulullah ﷺ menggambarkan daya rusak ketamakan ini melalui sabdanya:
“Tidaklah dua serigala lapar yang dilepas di tengah kawanan kambing lebih merusak daripada kerakusan seseorang terhadap harta dan kedudukan bagi agamanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2376)
Titik nadir kehinaan kerakusan tampak nyata ketika nurani mati di hadapan penderitaan sesama. Praktik penjarahan hak kaum rentan (seperti korupsi anggaran dan logistik bantuan di tengah bencana alam) adalah puncak kezaliman. Di saat para korban merintih kehilangan tempat bernaung dan sanak saudara, para penjarah justru menjadikannya bancakan demi memuaskan nafsu duniawi.
Dalam timbangan syariat, pengkhianatan terhadap amanah publik ini adalah pengkhianatan (ghulul). Allah ﷻ memperingatkan kehinaan mutlak bagi pelakunya kelak:
“Barangsiapa yang berkhianat (ghulul), niscaya pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kemudian setiap jiwa akan diberi balasan yang sempurna atas apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi.” (QS. Ali ’Imran: 161)
Bukan kemuliaan yang diraih, melainkan kecemasan di dunia, cemoohan sejarah, serta ancaman memikul beban kezaliman di hadapan hisab yang maha adil di akhirat. Terlebih, tidak ada dinding pemisah antara rintihan doa orang-orang yang dizalimi dengan Allah ﷻ (HR. Al-Bukhari no. 1496).
Pengendalian dan Penawar Jiwa.
Agar hati tidak tergelincir menjadi hamba nafsu, Islam mengajarkan benteng pengendalian diri:
- Menumbuhkan Sifat Qana’ah (Kaya Hati)
Menyadari bahwa kemuliaan dan kekayaan sejati tidak diukur dari angka atau timbunan benda, melainkan kelapangan hati yang mengenal batas. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, melainkan kekayaan yang hakiki adalah kaya jiwa.” (HR. Al-Bukhari no. 6446 & Muslim no. 1051) - Memperkuat Muraqabatullah (Kesadaran Diawasi Allah).
Meyakini bahwa setiap sen harta dan setiap tarikan napas jabatan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Pandangan manusia bisa dikelabui oleh sandiwara dan dalih administratif, namun pandangan Allah menembus hingga ke lipatan niat yang paling tersembunyi. - Mengingat Pemutus Kelezatan (Dzikrul Maut).
Nafsu manusia akan harta sering kali baru berhenti saat tanah kubur menutup mulutnya. Mengingat kematian menyadarkan kita bahwa kafan tidak memiliki kantong; tak ada materi curian yang dibawa selain kain putih dan catatan hisab atas hak-hak orang lain yang pernah dirampas. - Melatih Empati dan Kedermawanan.
Ketamakan hanya bisa dikikis dengan memberi. Membiasakan diri melihat kepada mereka yang serba kekurangan akan menyalakan kembali kepekaan nurani, sehingga musibah sesama dipandang sebagai panggilan untuk menolong, bukan ladang untuk mengeruk untung.
Harta secuil yang bersih dan berkah jauh lebih agung daripada singgasana megah yang dibangun di atas air mata korban bencana.
Semoga Allah selalu menjaga kita atas kerakusan dan keserakahan yang menghinakan.
Aamiin.
Makassar, 16 Okt 2026
–@am.nasrulloh–






























