Riaumag.com – Sehari-hari Dr. Buntora Pasaribu merupakan dosen HQT Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) di Universitas Padjadjaran (Unpad).
Pada Selasa, 16 Desember 2025 ia dinobatkan sebagai periset muda terbaik Indonesia oleh Perhimpunan Periset Indonesia (PPI) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam ajang Young Researcher Award (YRA) 2025.
Dilansir dari laman Unpad, Sabtu (20/12/2025) penghargaan tersebut diserahkan oleh Kepala BRIN, Prof. Arif Satria. YRA 2025 menarik ratusan pendaftar dari dalam dan luar negeri sebelum mengerucutkan menjadi 23 finalis terbaik, yang berasal dari sektor krusial pertanian, kesehatan, pangan, energi, dan lingkungan.
Kembangkan riset kesehatan laut Indonesia Dr. Buntora konsisten mengembangkan riset kesehatan laut Indonesia melalui pendekatan molekular dan multidisipliner, yang mengaitkan isu energi, sumber daya air, polusi, hingga sekuester karbon laut. “Pendekatan lintas-organisme dan multidisipliner ini membuka perspektif baru dalam memahami respons dan adaptasi ekosistem laut dangkal. Sekaligus memperkuat posisi riset kelautan Indonesia di tingkat nasional dan internasional,” ujar Buntora, dikutip dari situs Unpad.
Ia melalui tiga tahap seleksi yang ketat sebelum akhirnya dinyatakan menjadi pemenang.
Bagi PPI, kontribusi ilmiah Dr. Buntora mencerminkan wajah baru riset Indonesia yang kritis, kolaboratif, dan relevan dengan tantangan masa depan.
Fokus pada biosistem laut dangkal Selama ini Dr. Buntora fokus pada biosistem laut dangkal di departemen ilmu kelautan. Dr. Buntora sempat bekerja sebagai postdoctoral associate di Amerika Serikat, melanjutkan riset pemenang Wolf Prize (Nobel Prize bidang Pertanian) dengan misi memetakan kode genetik tanaman air untuk energi terbarukan. Keberhasilan Buntora kini telah dipublikasikan di jurnal ilmiah bergengsi dunia. Menurutnya, untuk bisa sampai Nobel, riset harus didukung infrastruktur, tim, dan sistem yang bagus. Sebab tanpa itu periset tidak dapat membuat hal-hal baru.
Kesempatan Indonesia untuk menjadi “Nobel person” sangatlah tinggi karea kompleksitas lingkungan dan sistem sosial.






























