RIAUMAG.COM , BANDUNG——–Pernahkah kita menyaksikan kejadian dimana saat ada yang mengkritik sebuah kesalahan, tapi justru dibalas dengan kalimat: “Halah, yang di sana malah lebih parah!” atau “Kenapa baru sekarang dibahas? Kemarin ke mana aja?” atau “iya, tapi kan negara lain juga punya masalah yang sama” atau kata kisanak disana “Pemerintah sebelumnya bahkan lebih banyak membawa rombongan saat kunjungan keluar negeri” dan ucapan berbusa lainnya.
Maka,
Hati-hati, Anda sedang berhadapan dengan Whataboutism.
Ini adalah sesat pikir (logical fallacy) yang paling sering muncul di ruang digital kita saat ini. Tujuannya cuma satu: mengalihkan fokus dari masalah utama dengan cara melempar tuduhan lain yang tidak relevan.
Alih-alih menjawab kritik dengan solusi atau data, mereka justru menyerang balik untuk mengaburkan akuntabilitas.
Alih-alih menjawab kritik, mereka menyerang balik dengan retorika “Bagaimana dengan…?” (What about…?).
Dampaknya sangat berbahaya. Ketika whataboutism dinormalisasi, pelaku kesalahan tidak perlu lagi bertanggung jawab—mereka hanya perlu mencari kesalahan orang lain yang lebih besar untuk dijadikan tameng. Akibatnya, diskusi publik kita tidak pernah menghasilkan solusi, melainkan hanya lingkaran setan saling menuding yang melelahkan mental.Ya, itulah salah satu pelarian dari fokus solusi, sekaligus ciri mereka yang akan lari dari tanggung jawab. Dzalim bukan?
Dampak lainnya,
Indeks Keberadaban Digital (Digital Civility Index) Indonesia oleh riset Microsoft beberapa tahun lalu sempat berada di tingkat terbawah se-Asia Tenggara dalam hal kesopanan digital. Studi dalam Jurnal Sociopolitico (2026) mengonfirmasi bahwa agresi digital ini bertransformasi menjadi manipulasi argumen yang terstruktur. Salah satunya: Whataboutism digunakan sebagai tameng argumen (seolah “saling mengingatkan”) padahal motif aslinya adalah pembungkaman kritik.
Saatnya Memastikan Solusi
Secara individual, mari kita pribadi membiasakan untuk fokus kepada topik dan solusi.
Ketika kita berhadapan dengan whataboutism dalam diskusi, jangan masuk ke dalam jebakan isu baru yang dilemparkan.
Taktiknya seringkali disebut Acknowledge and Redirect (Akui lalu Arahkan Kembali).
Contoh: “Isu korupsi di masa lalu yang Anda sebutkan itu penting dan setuju untuk diusut. Namun, hari ini kita sedang membahas kasus korupsi xxxx yang baru saja terjadi minggu ini. Mari kita selesaikan kasus ini terlebih dahulu.”
Ada pula solusi komunal: Edukasi Logical Fallacy Secara sosial.
Masyarakat perlu dikenalkan dengan istilah-istilah sesat pikir (logical fallacy) seperti whataboutism dan tu quoque (menuduh balik). Sehingga kita semua bisa menilai mana argumen, dan mana pelarian. Mana solusi, mana dalih murahan. Jika kita sudah bisa mengidentifikasi, “Ah, ini teknik whataboutism,” maka narasi pengalihan tersebut akan kehilangan kekuatannya karena langsung dilabeli sebagai argumen cacat oleh publik sendiri.
Jadi saudaraku,
Mari kita stop menormalisasi fenomena ini. Mulai hari ini, saat ada yang mencoba mengalihkan pembicaraan, kunci fokus kita dan katakan: “Isu yang Anda bawa mungkin penting, tapi mari kita selesaikan dulu masalah yang ada di depan mata ini sampai tuntas.”
Berhentilah mendewakan “kemenangan debat” jika harga yang harus dibayar adalah matinya daya kritis dan akuntabilitas bangsa.
Dari seorang warga negara,
–@am.nasrulloh–






















