Ilustrasi tambang nikel. Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad© Disediakan oleh Kumparan
Kementerian Investasi/BKPM buka suara terkait potensi pengembangan lithium ferrophosphate (LFP) yang digadang-gadang menjadi pesaing nikel untuk bahan baku baterai kendaraan listrik.
Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi, Nurul Ichwan menjelaskan, bahwa LFP dan baterai berbasis nikel atau Nickel Manganese Cobalt Oxide (NMC) merupakan dua teknologi yang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
“Dua-duanya implementatif ada kelebihan dan kekurangan, yang pertama LFP dari sisi security lebih tinggi, kapasitasnya agak kurang, kayak kita NMC kapasitasnya lebih tinggi tapi security dianggap kurang,” ungkapnya saat ditemui di Hotel Pullman Thamrin, Selasa (23/1).
Nurul menjelaskan, Indonesia sebenarnya memiliki potensi untuk mengembangkan kedua teknologi tersebut di industri hilir. Sama halnya dengan potensi permintaan yang terbuka lebar.
Meskipun demikian, dia mengakui pasar baterai kendaraan listrik di dalam negeri kini masih rendah dan belum semaju negara lain. Beliau memprediksi permintaan akan tumbuh setelah tahun 2035.
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal, Nurul Ichwan, Senin (23/10/2023). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan© Disediakan oleh Kumparan
“Potensi pengembangan industri kendaraan listrik yang menggunakan LFP dan NMC masih punya kemungkinan, saya lihat 2040 atau 2035 masih bisa tumbuh dua-duanya,” tutur Nurul.
Nurul menyebutkan bahwa LFP sedang menjadi sorotan para pengusaha kendaraan listrik, namun belum tentu bisa 100 persen menggerus permintaan nikel yang masih marak di seluruh dunia.
“Kalau disampaikan para ahli, seperti Pak Tom Lembong kah, dan ahli lain itu ada benarnya, tapi belum tentu 100 persen benar karena ada sesuatu yang belum terjadi ke depan karena at the end of the day demand akan memengaruhi itu semua,” tegas dia.
Menurut dia, kelebihan pasokan (oversupply) atau kelebihan pasokan nikel memang sedang terjadi, namun masih terbuka potensi peningkatan permintaan seiring dengan transisi dunia menuju kendaraan listrik.
Co-Captain Timnas AMIN, Thomas Lembong, dalam program Info A1 kumparan di kantor kumparan, Jakarta, Kamis (14/12/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan© Disediakan oleh Kumparan
“Di Kementerian Investasi kita memang menavigasi diri kita sendiri secara cermat untuk bermanuver di market yang sedang dinamis ini,” lanjutnya.
Untuk perkembangan LFP sendiri, Nurul menyebutkan Indonesia tidak memiliki bahan baku yang memadai, seperti lithium yang harus diimpor. Sementara ferro (Fe) atau besi ada namun tidak terpusat di satu tempat.
“Kita lithium tidak punya, kemudian untuk Fe besinya kita punya tapi kita juga tahu tidak ada yang terkonsentrasi dalam jumlah besar dalam satu tempat, scatered biasanya kecil-kecil, bukan berarti kita tidak punya,” jelas Nurul.
Kendati begitu, Nurul menegaskan Indonesia masih konsisten mengembangkan ekosistem kendaraan listrik, sehingga lebih banyak investor tertarik menggelontorkan dananya, meskipun tidak harus mempunyai bahan baku LFP.
“Entah mereka kalau bikin baterai LFP prosesnya boleh saja dibikin di Indonesia karena berdekatan dengan industrinya, kalau ekosistem baterai sudah ada di indonesia EV-nya juga akan muncul di Indonesia,” kata dia.
Chief Executive Officer Tesla Elon Musk masuk ke dalam mobil saat meninggalkan hotel di Beijing, China 31 Mei 2023. Foto: Tingshu Wang/Reuters© Disediakan oleh Kumparan
“Kalau market terbesar di ASEAN adalah Indonesia mereka punya alasan untuk memilih Indonesia sebagai hub untuk industri mereka sekalipun pakai LFP,” pungkas Nurul.
Sebelumnya, Cawapres Gibran Rakabuming Raka menilai co-captain AMIN, Thomas Lembong, melakukan kebohongan karena menyebut produsen kendaraan listrik Tesla tak lagi menggunakan nikel sebagai bahan baku baterai listrik. Hal itu dilontarkan saat bertanya kepada lawannya, Cawapres Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, saat debat pilpres keempat, Minggu (21/1) malam.
Kepada lawannya, Gibran mengaku heran Tom Lembong kerap menyinggung Tesla saat ini lebih memilih pakai lithium ferrophosphate (LFP) untuk bahan baku baterai listrik. Padahal, sepemahaman Gibran, Elon Musk, sang pemilik Tesla masih menggunakan nikel, komoditas yang jumlahnya melimpah di Indonesia.
Keanehan lain di mata Gibran, Cak Imin tidak mengerti apa itu LFP. Seharusnya, kata dia, pasangan Anies Baswedan ini paham soal LFP karena Tom Lembong kerap membahas itu.
“Kan aneh, (Tom Lembong) sering bicara LFP, lithium ferrophosphate. (Katanya) Tesla enggak pakai nikel. Ini kan kebohongan publik, mohon maaf. Tesla itu pakai nikel, pak, dan Indonesia negara yang punya cadangan nikel terbesar sedunia,” katanya dalam debat.




























