Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam sejahtera
Alhamdulillah wa syukurilah, puji dan syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas berkat
rahmat dan karunia-Nya kepada kita, dengan memberikan nikmat iman, nikmat umur, nikmat
sehat, dan nikmat waktu, sehingga kita bisa hadir dan berkumpul di hari ini.
Allahummashali ala Muhammad kita sampaikan kepada contoh terbaik manusia yang sepanjang
hidupnya senantiasa untuk kebaikan kemaslahatan manusia lainnya.
Yang saya hormati semua kakanda, kawan, dan adinda yang hadir di ruangan ini, saya ucapkan
terima kasih atas kehadirannya. Meski saya tahu pasti banyak kegiatan penting lainnya yang
harus dihadiri dalam suasana Lebaran ini, tetapi menyempatkan hadir untuk undangan saya ini
menunjukkan kecintaan kita kepada Universitas Bung Hatta.
Mari kita tepuk tangan untuk Universitas Bung Hatta.
Dalam kesempatan ini pula saya mengucapkan minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan
batin.
Kakanda, kawan, dan adinda yang saya banggakan. Izin saya mulai dengan memperkenalkan diri:
Nama saya Mardiansyah, lahir di Bandung, 7 Februari 1978, dari ayah Boestamar asli Kuraitaji
Pariaman dan Ibu Nuryati asli Sumedang, Jawa Barat. Saya anak ke-4 dari 5 bersaudara.
Taman kanak-kanak saya waktu itu di TK Aisyah Asratek, SD di 06 Lapai, SMP 25 Padang, SMA 3
Padang, dan pada tahun 1996 masuk di Teknik Sipil Universitas Bung Hatta.
Selama menjadi mahasiswa Bung Hatta, saya aktif di kegiatan kemahasiswaan, menjadi Ketua
Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil, anggota Senat/BEM fakultas, dan Himpunan Mahasiswa
Islam.
Juga turut serta aktif bergerak pada masa transformasi tahun 1998 sampai berhasilnya tujuan
demonstrasi mahasiswa menduduki kantor DPRD Kota Padang, sejalan dengan momen di
Ibukota mengganti rezim pemerintah saat itu.
Saya lulus dari Universitas Bung Hatta tahun 2002, setelah saya pulang dari Jerman untuk kuliah
singkat dalam rangka pertukaran mahasiswa antara UBH dengan Fachochshule Hildesheim
Jerman. Kemudian menjadi asisten dosen Bapak Almarhum Ahmad Dahlan, alfatihah untuk
beliau, dan asisten dosen untuk Bapak Mawardi Samah.
Sambil menjadi asisten, saya ikut menjadi konsultan pengawas pembangunan Gedung L Bung
Hatta yang sebelumnya disebut Gedung J, di sebelah lapangan sepak bola kita.
Setelah itu, tahun 2003 saya bekerja di Shimizu pada proyek pembangunan Bandar Udara
Minangkabau sampai selesai di tahun 2005.
Di masa ini, saya pernah mendaftar untuk jadi calon dosen di Universitas Bung Hatta, tapi tidak
lulus. Tapi insyaAllah siapa tahu masih ada takdirnya untuk bisa jadi dosen di kampus tercinta ini.
Tahun 2005 saya merantau ke Jakarta dan bekerja di Kantor Konsultan Prosys Engineer, dan
tahun 2006 saya bekerja di Hutama Karya sebagai pelaksana lapangan dengan status kontrak
proyek.8 tahun bekerja keras sebagai pekerja lapangan, baru tahun 2014 saya diangkat menjadi
karyawan tetap dan dapat memimpin proyek, di antaranya Tol Cinere–Jagorawi, Tol Pekanbaru–
Dumai, dan Tol Medan–Binjai.
Dan di tahun 2018 kemudian masuk ke struktural jabatan di anak perusahaan HKI sebagai Kepala
Departemen Pengendalian, Kepala Departemen Infrastruktur, dan Kepala Departemen
Pengawasan Internal.
Kemudian di tahun 2022 ditarik ke Kantor Pusat Hutama Karya sebagai Kepala Divisi Human
Capital dan Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan.
Dan pada tahun 2022–2023, saat OIKN baru berdiri, saya bersama Kepala OIKN Pak Bambang
Susantono diminta menjadi Koordinator Pembangunan Infrastruktur dan Logistik sampai
terbentuknya struktur kepemerintahan yang sah di OIKN.
Saat ini sebagai Direktur Operasi 2 PT Hutama Karya (Persero), BUMN terbaik 10 besar, dengan
aset Rp190 triliun, dengan laba bersih tahun lalu lebih sedikit Rp3 triliun.
Dengan rata-rata pendapatan per tahun Rp22–35 triliun dari ratusan proyek, maka ini merupakan
potensi bagi alumni Universitas Bung Hatta untuk ambil bagian dalam pembangunan nasional.
——————
Hadirin yang saya hormati,
Mari kita mulai dari satu hal yang tidak terbantahkan…
Universitas Bung Hatta adalah kampus yang berhasil mencetak alumni-alumni hebat.
Ini fakta.
Kita semua adalah bukti nyata dari kualitas itu.
Kita dididik dengan nilai…
dengan integritas…
dan dengan semangat perjuangan.
Hari ini…
Alumni Bung Hatta tersebar di berbagai bidang strategis.
Ada yang menjadi pejabat…
ada yang menjadi pengusaha…
ada yang menjadi profesional…
dan ada yang menjadi akademisi.
Kita hadir di banyak tempat penting.
Kita punya posisi.
Kita punya pengaruh.
Kalau kita lihat lebih dalam…
kita sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar.
Kita punya:
🐠Network — jaringan yang luas di berbagai sektor
🐠Capital — kemampuan finansial dan akses terhadap sumber daya
🐠Experience — pengalaman nyata di lapangan, di level strategisIni bukan potensi kecil.
Ini adalah kekuatan besar.
Tapi…
Di tengah semua potensi itu…
Ada satu kenyataan yang harus kita akui bersama.
Kita belum terhubung secara sistematis.
Kita belum punya sistem yang benar-benar mengikat kita.
Belum ada orkestrasi yang menyatukan kekuatan besar ini.
Kita seperti kumpulan titik-titik hebat…
tapi belum menjadi satu garis besar yang bergerak bersama.
Dan di sinilah inti masalah kita…
Potensi kita besar…
tapi belum terorkestrasi.
Hadirin yang saya banggakan,
Kalau potensi sebesar ini tidak kita satukan…
maka kita hanya akan terus menjadi kuat…
secara individu.
Tapi tidak akan pernah menjadi besar…
secara kolektif.
Karena itu, visi saya jelas:
🐠Menjadikan Alumni UBH sebagai jaringan profesional yang solid, berdaya secara ekonomi,
dan berpengaruh secara nasional.
Bukan hanya kumpul…
tapi tumbuh bersama dan saling menguatkan.
MISI
1. Membangun database alumni terintegrasi nasional
2. Membangun gedung Alumni Universitas Bung Hatta
3. Membentuk ekosistem ekonomi alumni (bisnis & investasi)
4. Memperkuat kolaborasi alumni–kampus–industri
5. Menjadikan alumni sebagai kekuatan sosial yang bermanfaat
Dengan Visi Misi ini akan menjadi pedoman kegiatan dan bekerja bagi segenap pengurus dan
anggota Alumni Universitas Bung Hatta.
————-
Hadirin yang saya hormati,
Kalau tadi kita bicara tentang potensi…
maka sekarang kita harus berani bicara tentang kenyataan.
Alumni kita besar.
Jumlahnya banyak.Kualitasnya tinggi.
Perannya signifikan di berbagai sektor.
Tapi…
Besar… belum tentu kuat.
Kenapa?
Karena kita harus jujur…
Kita belum terintegrasi.
Kita masih berjalan sendiri-sendiri.
Belum ada keterhubungan yang nyata antar alumni.
Belum ada sinergi yang terbangun secara konsisten.
Lebih jauh lagi…
Kita belum punya sistem yang terpadu.
Tidak ada mekanisme yang mengatur:
bagaimana kita saling terhubung,
bagaimana kita berkolaborasi,
bagaimana kita menciptakan nilai bersama.
Semua masih sporadis…
tergantung individu…
bukan sistem.
Kemudian…
Kita juga belum punya platform terpusat.
Tidak ada satu tempat—
yang bisa menjadi pusat informasi,
pusat interaksi,
pusat peluang.
Akibatnya…
Banyak peluang hilang…
banyak potensi tidak saling bertemu.
Dan yang paling krusial…
Kita belum punya capital base bersama.
Kita punya banyak alumni yang kuat secara finansial…
tapi kekuatan itu tidak pernah dikonsolidasikan.
Tidak pernah dikumpulkan…
tidak pernah diarahkan…
untuk menjadi kekuatan ekonomi kolektif.
Apa dampaknya?
Dampak kolektif kita… rendah.
Padahal secara individu kita hebat…tapi secara organisasi…
kita belum terasa.
Dan di sinilah poin pentingnya…
Ini bukan karena kita kekurangan potensi.
Bukan.
Masalah kita hanya satu…
KITA BELUM PUNYA SISTEM.
Hadirin yang saya banggakan,
Kalau masalahnya adalah potensi…
mungkin sulit diperbaiki.
Tapi kalau masalahnya adalah sistem…
Maka…
Ini bisa kita bangun.
Dan inilah titik baliknya.
Dari kesadaran masalah…
menuju solusi yang terstruktur.
——————————————
Hadirin yang saya hormati,
Selama ini…
apa yang kita lakukan sebagai alumni?
Kita berkumpul…
kita bersilaturahmi…
kita membuat event…
kita melakukan kegiatan sosial.
Dan itu semua… baik.
Tapi kita juga harus jujur…
Dampaknya masih terbatas.
Karena sifatnya masih sesaat.
Tidak terstruktur.
Tidak berkelanjutan.
Maka pertanyaannya…
Apakah kita akan terus seperti ini?
Atau…
kita naik level?
Saya mengajak kita semua untuk berpikir lebih besar. Bukan hanya sebagai komunitas…tapi sebagai ekosistem.
Untuk itu saya datang tidak untuk membawa program tapi lebih dari itu
Saya datang… membawa ekosistem…
Kita butuh ekosistem yang terintegrasi.
Ekosistem yang menghubungkan:
🐠Kampus
🐠Alumni
🐠Kekuatan ekonomi
🐠Dan kembali lagi ke kampus
Bayangkan sebuah siklus yang hidup…
Kampus mencetak alumni…
Alumni membangun kekuatan ekonomi…
Kekuatan ekonomi memperkuat Alumni…
Eksistensi Alumni yang kuat akan kembali memperkuat kampus untuk mencetak generasi hebat
yang lebih banyak.
Inilah yang kita sebut sebagai:
Sustainable system.
Bukan program satu periode…
bukan kegiatan sesaat…
Tapi sistem yang hidup…
dan terus berkembang…
bahkan tanpa tergantung pada siapa ketuanya.
Hadirin yang saya banggakan,
Inilah pilihan kita hari ini…
Apakah kita ingin tetap menjadi
sekadar komunitas…
Atau…
bertransformasi menjadi ekosistem?
Karena masa depan organisasi alumni…
bukan lagi tentang kumpul-kumpul…
tapi tentang menciptakan nilai.
Dan saya percaya…
Universitas & Alumni Bung Hatta…
sudah saatnya naik kelas.
Dari komunitas…
menjadi EKOSISTEM.——————————-
Hadirin yang saya hormati,
Setelah kita memahami situasi…
menyadari masalah…
dan sepakat bahwa kita harus naik level…
Maka pertanyaan berikutnya sederhana:
Bagaimana kita menjalankannya?
Saya tidak datang dengan konsep yang abstrak.
Saya datang dengan struktur yang jelas…
sistem yang terukur…
dan eksekusi yang nyata.
Pertama… kita bangun Hatta Graha.
Ini bukan sekadar gedung.
Tapi simbol fisik dan pusat aktivitas.
Tempat berkumpul dan berkolaborasi ya alumni.
Tempat lahirnya ide.
Tempat bertemunya peluang.
Di sinilah interaksi nyata terjadi.
Di sinilah energi komunitas menjadi gerakan.
Hatta Graha menjadi anchor dari ekosistem kita.
Karena komunitas tanpa pusat…
akan sulit berkembang secara terstruktur.
Kedua… kita bangun Platform Digital.
Kita masuk ke era digital.
Organisasi tanpa sistem digital akan tertinggal.
Kita bangun sebuah dashboard terintegrasi.
Semua alumni terdata.
Semua potensi terpetakan.
Semua parameter terlihat.
Dari yang sebelumnya tidak saling tahu…
menjadi saling terhubung.
Dari yang sebelumnya acak…
menjadi sistematis, transparan, akuntabel dan real time.
Ketiga… kita bentuk Hatta Executive Club (HEC).
81 alumni terpilih.
Bukan hanya anggota…
tapi founding investors.Masing-masing berkontribusi…
membangun capital base bersama.
Fondasi kekuatan ekonomi kita.
Kenapa ini penting?
Karena organisasi tanpa kapital…
akan selalu bergantung.
Dengan HEC:
🐠kita punya kekuatan finansial
🐠kita punya komitmen
🐠kita punya kecepatan eksekusi
Ini bukan iuran.
Ini adalah investasi bersama.
Keempat… kita jalankan Hatta Group.
Ini adalah mesin bisnisnya.
Unit usahanya sudah jelas:
• Properti & konstruksi (Hatta Karya Indonesia)
• Hukum (Hatta Law Firm)
• Perikanan (Hatta Fishery)
• Event & services (Hatta EO)
• Retail (Hatta Groceries)
• Logistik (Hatta Logistic)
• Creative industry (Hatta Industri Kreatif)
Para anggota HEC selaku investor berkewajiban memberikan kontrak kerja kepada unit usaha Ini
paralel dengan mereka mendapatkan kontrak kerja dari external. Tapi yang utama dari internal
yaitu HEC dan anggotanya.
Semua dikelola profesional.
Semua transparan.
Semua memberikan manfaat kembali ke alumni.
Dan yang paling penting…
Semua ini bukan proyek jangka pendek.
Kelima… sustainability
Ini adalah sustainability system.
Karena kita bangun:
• sistem
• struktur
• digital platform
• model bisnis
Sistem yang terus berjalan.
Sistem yang terus berkembang.
Sistem yang tidak bergantung pada satu orang.
Hadirin yang saya banggakan,
Inilah yang ingin kita bangun:Bukan sekadar organisasi…
tapi mesin.
Struktur yang jelas…
melahirkan sistem…
dan sistem yang kuat…
akan menghasilkan eksekusi yang nyata.
Dan ketika ini berjalan…
Alumni Bung Hatta tidak hanya dikenal…
tapi akan diperhitungkan.
———————
Hadirin yang saya hormati,
Mari kita bayangkan bersama…
5 tahun ke depan, dari hari ini.
Di titik itu…
Hatta Graha sudah berdiri.
Bukan sekadar bangunan…
tapi menjadi pusat pertemuan, kolaborasi, dan lahirnya peluang bagi alumni.
Ekosistem sudah berjalan.
Bukan lagi konsep…
tapi sistem yang hidup, yang menghubungkan alumni secara nyata.
Alumni Bung Hatta terhubung secara nasional.
Dari berbagai kota, berbagai profesi…
kita tidak lagi berjalan sendiri…
tapi bergerak sebagai satu kekuatan.
Dan yang paling penting…
Kita menghasilkan nilai ekonomi nyata.
Ada bisnis yang tumbuh,
ada peluang yang tercipta,
dan ada manfaat yang dirasakan bersama.
Inilah yang kita bangun:
Sebuah loop ekosistem untuk kebangkitan kembali kejayaan Universitas Bung Hatta dan bentuk
tanggung jawab moral kita menjaga nama besar Pahlawan Nasional Muhammad Hatta
Proklamator Bangsa.
Salam Proklamator
————————
Hadirin yang saya banggakan,
Kita punya kesempatan…
Bukan sekadar memimpin organisasi…
Tapi membangun sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.Sesuatu yang akan terus berjalan…
bahkan ketika kita sudah tidak lagi di sini.
Dan di sinilah saya berdiri hari ini…
Dengan satu niat…
Dengan satu komitmen…
Saya siap memimpin itu.
Bukan untuk menjadi yang paling depan…
tapi untuk memastikan kita semua bisa berjalan bersama.
Bukan untuk dikenal…
tapi untuk memastikan kita semua berdampak positif.
Mari kita bangun bersama.
Mari kita satukan kekuatan kita.
Mari kita tinggalkan warisan yang layak dibanggakan.
Bukan untuk kita…
tapi untuk generasi setelah kita.
Terima kasih.
Wabillahi Taufik wal hidayah
Mohon maaf atas kekhilafan
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.






















