Penulis: Buralimar , pengamat pariwisata, budaya , olahraga dan sosial, tinggal di Batam
RIAUMAG.COM ———Bermula dari nama Senapelan yang kemudian bertransformasi menjadi Kawasan Bandar Pekan, dan kini dikenal sebagai Pekanbaru.
Kota ini menyimpan rekam sejarah panjang yang membentuk karakter dan perannya hingga hari ini. Tahun ini, Pekanbaru memperingati hari jadinya yang ke-242. Penetapan tersebut merujuk pada peristiwa musyawarah Dewan Menteri Kesultanan Siak pada 23 Juni 1784, ketika kawasan ini mulai ditata sebagai pusat permukiman dan perdagangan di tepi Sungai Siak. Momentum historis itu kemudian diperkuat dengan penetapan Pekanbaru sebagai ibu kota Provinsi Riau pada 20 Januari 1959 melalui Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor Des. 52/1/44-55, yang memindahkan pusat pemerintahan dari Tanjungpinang.

Sejak saat itu, Pekanbaru berkembang menjadi simpul utama pemerintahan, jasa, dan perdagangan di Sumatera bagian tengah.
Sebagai ibu kota provinsi, laju pertumbuhan Pekanbaru dalam tiga dekade terakhir tergolong signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, Produk Domestik Regional Bruto Kota Pekanbaru atas dasar harga berlaku tahun 2023 mencapai Rp129,84 triliun dengan laju pertumbuhan ekonomi 4,05 persen. Kontribusi sektor perdagangan besar dan eceran serta sektor konstruksi menjadi penopang utama, sejalan dengan masifnya pembangunan infrastruktur dan tumbuhnya pusat-pusat bisnis baru. Secara demografis, jumlah penduduk Pekanbaru pada 2024 tercatat 1.159.870 jiwa dengan tingkat kepadatan 1.836 jiwa per km², menjadikannya kota terpadat sekaligus pasar terbesar di Riau.

Posisi geografis yang relatif berada di tengah Pulau Sumatera membuat Pekanbaru berperan sebagai kota transit strategis. Hal ini diperkuat dengan keberadaan Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II yang pada 2023 melayani 4,1 juta penumpang, serta beroperasinya Jalan Tol Pekanbaru–Dumai sepanjang 131 km yang memangkas waktu tempuh menjadi kurang dari 2 jam. Rencana pengembangan Tol Pekanbaru–Rengat dan Pekanbaru–Bangkinang akan semakin mengintegrasikan ibu kota dengan kabupaten/kota lainnya.
Infrastruktur kota juga terus diperkuat melalui ikon-ikon yang meningkatkan daya tarik. Perpustakaan Soeman H.S. dengan enam lantai yang dikenal sebagai “perpustakaan termegah di Sumatera” mampu menampung 1.000 pengunjung per hari. Kantor Gubernur Riau yang berdiri di jantung kota menjadi landmark pemerintahan, sementara empat Jembatan Siak Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, Tengku Agung Sultanah Latifah, Marhum Bukit, dan Marhum Pekan, memastikan konektivitas kawasan Seberang dengan pusat kota.
Pertumbuhan pusat perbelanjaan modern, hotel berbintang, dan ruang publik artistik menambah kelengkapan amenitas Pekanbaru sebagai destinasi MICE dan urban tourism.
Pengamat tata kota dari Universitas Riau, Prof. Dr. Zulkarnain, M.Si., menyebut bahwa “Pekanbaru telah melewati fase kota administratif menjadi kota jasa yang bertumpu pada perdagangan, pendidikan, dan kesehatan. Tantangannya kini adalah mengonsolidasikan peran sebagai hub agar pertumbuhan tidak tersentralisasi”.

Momentum Hari Jadi ke-242 yang jatuh pada 23 Juni 2026 dimanfaatkan Pemerintah Kota Pekanbaru untuk menggerakkan ekonomi kreatif dan pariwisata. Salah satu agenda yang mendapat atensi publik adalah pembuatan kue talam durian sepanjang 1 kilometer pada 21 Juni 2026 di ruas jalan protokol, bertepatan dengan Car Free Day, akan menjadi dan tercatat sebagai rekor MURI. Kegiatan tersebut tidak menggunakan APBD, melainkan hasil kolaborasi lebih dari 400 pelaku UMKM kuliner se-Pekanbaru.
Bersamaan dengan itu, digelar Festival Makan “Durian Bengkalis” yang menampilkan varietas durian unggul dari Kabupaten Bengkalis. Langkah ini dinilai strategis karena mempertemukan produk daerah dengan pasar perkotaan yang lebih luas. Ekonom dari Universitas Islam Riau, Dr. Desi Wahyuni, S.E., M.Si., berpendapat bahwa “event berbasis kearifan lokal yang digelar di ibu kota provinsi memiliki multiplier effect 2,3 kali lipat terhadap omzet UMKM dibanding jika digelar di daerah asal.
Pekanbaru sebagai etalase akan mempercepat diseminasi brand produk kabupaten/kota”.
Kritik bahwa seremonial hari jadi hanya menghabiskan anggaran perlu dilihat secara proporsional. Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan pemerintah untuk event daerah mampu menggerakkan pengeluaran wisatawan 7 hingga 9 kali lipat.
Di Pekanbaru, perputaran uang selama rangkaian Hari Jadi 2023 tercatat mencapai Rp38,7 miliar dalam sepekan, yang mengalir ke sektor perhotelan dengan okupansi naik 22 persen, transportasi daring, kuliner, dan suvenir. Artinya, event bukan sekadar seremoni, melainkan instrumen fiskal yang produktif jika dikelola dengan kurasi dan kolaborasi.
Berkaca pada praktik tersebut, Pekanbaru sangat potensial diposisikan sebagai centre promosi bagi seluruh kabupaten/kota di Riau. Selama ini, event-event budaya unggulan masih bersifat lokalistik. Padahal, menurut riset Dinas Pariwisata Provinsi Riau 2024, tingkat kunjungan wisatawan nusantara ke kabupaten/kota selain Pekanbaru baru mencapai 31 persen, sementara wisatawan mancanegara 87 persen menjadikan Pekanbaru sebagai pintu masuk utama. Ini menjadi PR tersendiri bagi seluruh element dan stakeholders terkait agar wisatawan lebih tertarik datang dan menikmati budaya lokal yang kental. Ini dapat dijembatani apabila ibu kota provinsi menyediakan panggung promosi reguler.
Produk budaya seperti Ratib Togak dari Rokan Hilir dan Rokan Hulu, Zapin Siak dari Kabupaten Siak, Randai Kuantan dari Kuantan Singingi, serta event atraktif seperti Festival Pacu Jalur di Kuansing yang pada 2023 mendatangkan 1,4 juta pengunjung, Festival Bakar Tongkang di Rokan Hilir, Menjemah Laut di Bengkalis, Siak Bermadah di Siak, Subayang Festival di Kampar, Festival Perang Air di Kepulauan Meranti, Balimau Kasai di Indragiri Hulu, Festival Sampan Leper di Indragiri Hilir, hingga Festival Seribu Suluk di Rokan Hulu. Produk kuliner dan cemilan cemilan juga tak kalah menarik, ada kacang pukul dari Bagansiapiapi, macam macam kuliner sagu dari selat panjang, lempuk durian bengkalis, kerupuk ubi dumai, keripik pisang tembilahan, salai ikan kampar, bolu kemojo pekanbaru, kue asidah bangkinang, ikan asap selais pelalawan , san dan oleh oleh lainnya.

ini tentunya akan magnit agar wisatawan tertarik san akan memiliki nilai jual tinggi. Jika dikurasi menjadi kalender event terpadu dan dipentaskan di Pekanbaru dengan dukungan amenitas dan aksesibilitas yang mapan, maka city branding Pekanbaru akan naik kelas sekaligus mengangkat exposure 12 kabupaten/kota lainnya.
Penguatan peran ini membutuhkan orkestrasi kebijakan yang konsisten. Tema Hari Jadi tahun ini, “Berkolaborasi Menjadi Aksi (KolaboAksi)”, menegaskan bahwa sinergi lintas sektor adalah keniscayaan. Pemerintah berperan sebagai regulator dan fasilitator, pelaku usaha sebagai operator event dan investor, sementara masyarakat menjadi partisipan sekaligus pengawas sosial. Pemerintah Provinsi Riau selaku wakil Pemerintah Pusat perlu menjadi dirigen yang menyelaraskan RPJMD kabupaten/kota dengan agenda promosi bersama. Pakar kebijakan publik Universitas Lancang Kuning, Dr. Ahmad Hidayat, M.A.P., menekankan bahwa “ego sektoral antar-daerah harus ditanggalkan. Pekanbaru bukan kompetitor bagi kabupaten/kota, melainkan agregator. Keberhasilan promosi terpadu diukur dari meningkatnya length of stay wisatawan dan naiknya indeks daya saing pariwisata Riau secara kolektif”.
Untuk itu, diperlukan keberanian berpikir out of the box. Kolaborasi tidak cukup dengan seremoni penandatanganan MoU, tetapi harus masuk pada level kurasi produk, standarisasi kemasan, integrasi paket wisata, hingga sistem ticketing bersama. Prinsip think locally, act globally menjadi relevan: menjaga otentisitas budaya lokal, namun mendistribusikannya melalui kanal dan pasar global yang difasilitasi Pekanbaru. Sebagaimana pepatah “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”, beban promosi yang selama ini ditanggung sendiri-sendiri oleh kabupaten/kota akan lebih efisien jika ditopang bersama melalui hub Pekanbaru. Mantan Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya mengatakan “ untuk mencapai sesuatu yang luarbiasa , tidak bisa dengan cara cara biasa”, harus dengan kreativitas tinggi, inovasi terukur, dan kemauan yang kuat.
Terlepas dari pro dan kontra yang selalu menyertai kebijakan dan permasalah atau PR yang juga harus mendapat perhatian seperti masalah penanganan sampah, banjir serta asap. Langkah Pemerintah Kota Pekanbaru menjadikan hari jadi sebagai momentum konsolidasi promosi daerah , patut diapresiasi. Memang zaman now dibutuhan pemimpin kreatif , inovatif , kepemimpinan yang adaptif, cepat, dan berani mengambil terobosan untuk menggerakkan kembali optimisme kolektif.
Ketika hati yang mungkin jenuh, lamban, atau apatis kembali dialiri semangat bersama, dengan memerlukan tangan dingin pemimpinnya sebagaimana sisebut di atas, maka Pekanbaru tidak hanya tumbuh untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi lokomotif kemajuan bagi seluruh Riau. Warisan inilah yang kelak akan menjadi legacy bagi generasi mendatang.
Selamat Hari Jadi ke-242 Kota Pekanbaru,
Tahniah dan apresiasi untuk Bapak Walikota dan Wakil Walikota Pekanbaru beserta jajaran pemerintahan daerah serta masyarakat Pekanbaru.
“ Dara manis berbaju biru, sambil makan minumanya oren. Selamat hari jadi kota pekanbaru, semoga menjadi pusat promosi yang keren”.
( Ahad, 21 Juni 2026
Penulis: Buralimar , pengamat pariwisata, budaya , olahraga dan sosial, tinggal di Batam)
























