RIAUMAG.COM , BANDUNG
Alkisah, seorang pria datang menemui Abu Nawas dalam kondisi stres berat dan putus asa. Pria ini mengeluh bahwa rumahnya sangat sempit, padahal ia harus tinggal di sana bersama istri dan anak-anaknya. Rumah itu terasa pengap, bising, dan membuat keluarganya sering bertengkar.
Ia meminta solusi kepada Abu Nawas agar bisa hidup lebih lapang, karena ia tidak punya uang untuk membeli rumah baru.
Setelah berpikir sejenak, Abu Nawas memberikan saran yang aneh:
Tahap 1: Abu Nawas menyuruh pria itu membeli beberapa ekor ayam dan memasukkannya ke dalam rumah. Pria itu bingung, namun patuh. Besoknya ia kembali sambil menangis, “Rumahku makin sempit dan bau!”
Tahap 2: Abu Nawas justru menyuruhnya menambah seekor domba untuk masuk ke rumah. Pria itu makin stres, rumahnya kini penuh kotoran dan suara bising.
Tahap 3: Belum cukup, Abu Nawas menyuruhnya memasukkan seekor keledai. Kini, rumah tersebut benar-benar berubah menjadi seperti kebun binatang yang kacau balau.
Pria itu datang lagi ke Abu Nawas, hampir gila karena frustrasi.
Puncak Resolusi:
Melihat kondisi pria itu sudah di titik nadir, Abu Nawas akhirnya berkata, “Sekarang, pulanglah. Keluarkan keledai, ayam, dan domba itu dari rumahmu. Bersihkan rumahmu, lalu kembalilah besok.”
Keesokan harinya, pria itu datang menemui Abu Nawas dengan wajah yang berseri-seri dan senyum lebar. Ia memeluk Abu Nawas dan berkata:
“Wahai Abu Nawas, demi Allah, rumahku sekarang terasa sangat luas, lapang, dan nyaman sekali! Kami semua bisa tidur dengan tenang tanpa ada gangguan lagi. Terima kasih atas saranmu yang luar biasa!”
Padahal, ukuran fisik rumah pria itu tidak bertambah satu sentimeter pun.
Kisah ini adalah contoh klasik dari beberapa konsep kompetensi interpersonal:
- Cognitive Reframing (Mengubah Bingkai Berpikir).
Masalah sering kali bukan terletak pada situasi objektifnya, melainkan pada bagaimana kita mempersepsikannya. Abu Nawas tidak mengubah ukuran rumah (kondisi fisik), melainkan mengubah tolok ukur kenyamanan di dalam pikiran pria tersebut. Dalam manajemen, kemampuan melakukan reframing bisa membantu kita melihat tantangan atau keterbatasan sumber daya sebagai sesuatu yang masih bisa dikelola. - Bahaya Hedonic Treadmill dan Pentingnya Syukur
Manusia memiliki kecenderungan cepat melupakan kenyamanan yang sudah dimiliki dan fokus pada apa yang kurang (hedonic treadmill). Pria tersebut awalnya lupa bahwa ia masih punya rumah pelindung. Dengan “diberikan masalah yang lebih besar” (hewan ternak), ia dipaksa menyadari nilai dari kondisi awalnya yang seharusnya dia syukuri. - Contrast Effect dalam Pengambilan Keputusan.
Dalam ilmu perilaku, manusia menilai sesuatu berdasarkan perbandingan. Ketika dihadapkan pada skenario terburuk (rumah penuh hewan), kondisi normal yang tadinya dianggap “buruk” langsung berubah status menjadi “sangat mewah”. Strategi ini biasa digunakan untuk membuat kita menghargai opsi yang (sebenarnya) sudah ada.
Begitulah, bagaimana syukur bisa terus dilatih dengan fokus kepada yang ada dan tidak menyempitkan diri dengan yang belum ada (Hedonic Treadmill). Bisa jadi pula, sempit dan sumpeknya pikiran kita karena terlalu banyak isi yang seharusnya bisa dikeluarkan sejak awal.
Semoga kita bisa mengambil hikmah untuk hadirnya kelapangan hidup yang lebih baik.
–@am.nasrulloh–
































