RIAUMAG.COM , BANDUNG——Fajar Muharram 1448 H telah menyapa kita. Ia bukan sekadar penanda bergantinya angka pada kalender, melainkan sebuah alarm spiritual yang memanggil jiwa untuk merenung: Sudah sejauh mana kita berubah maju?. Hal ini sejalan dengan pesan hijrah Rasulullah yang menjadi tonggak awal tahun Hijriyyah.
Sejarah Islam mencatat bahwa Hijrah Rasulullah dan para sahabat bukan sekadar perpindahan geografis dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah manifesto perubahan total—sebuah transisi dari ketertindasan menuju kemandirian, dari kesulitan menuju kejayaan, dan dari kehinaan menuju kemenangan.
Allah SWT berfirman :
“Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya (A’zhamu Darajah) di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan (Al-Fa’izun).”(QS.9:20)
Dari ayat yang agung ini, kita diajarkan pola untuk meraih tiga hal besar dalam hidup:
- Perubahan (Al-Iman & Al-Hijrah)
Perubahan hakiki dimulai dari fondasi keimanan yang kokoh, kemudian dimanifestasikan dalam perubahan nyata (hijrah). Di era modern ini, hijrah kita adalah hijrah maknawi—berpindah dari mentalitas malas menjadi produktif, dari zona nyaman maksiat menuju ketaatan, dan dari pribadi yang egois menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Tanpa keberanian untuk meninggalkan kebiasaan lama yang buruk, perubahan hanyalah angan-angan. - Kemuliaan (A’zhamu Darajah)
Ayat di atas menegaskan bahwa mereka yang berhijrah dan berjuang mendapatkan “a’zhamu darajah”—derajat yang paling agung di sisi Allah. Kemuliaan yang tidak diukur dari seberapa banyak harta yang kita tumpuk, melainkan dari bagaimana harta dan jiwa (bi-amwalihim wa anfusihim) dikorbankan demi kebaikan dan kemaslahatan umat. Manusia akan mulia di mata pencipta-Nya ketika ia berani keluar dari kepentingan diri demi membela sesama. - Kemenangan (Al-Fa’izun)
Di akhir ayat, Allah mengunci dengan penegasan: “wa ula’ika humul-fa’izun” (dan merekalah orang-orang yang menang). Kemenangan sejati bukanlah ketiadaan ujian, melainkan keteguhan sikap untuk tetap berjuang di jalan Allah di tengah berbagai ujian. Inilah buah dari kemuliaan perubahan.
Pada tahun 1448 Hijriah, mari kita jadikan momentum untuk merancang “hijrah pribadi” agar bisa mendapatkan kemuliaan dan kemenangan.
InsyAllah kita bisa lebih baik.
–@am.nasrulloh–































