RIAUMAG.COM , BANDUNG
”Lihat tuh Mbah X di kampung. Seumur hidup merokok, gak pernah olahraga, tapi umurnya 90 tahun dan masih kuat ke sawah. Berarti gaya hidup sehat tidak berlaku”.
Pernah kita mendengar fenomena ini atau sejenisnya?
Inilah yang disebut dengan istilah “Survivorship Bias”. Sebuah kecenderungan manusia untuk hanya fokus pada mereka yang “berhasil selamat/survivor” atau terlihat sukses, sambil menutup mata dari jutaan kegagalan yang tidak terlihat (karena sudah tidak ada).
Pada fenomena diatas, kita terpesona oleh Mbah X karena beliau adalah “survivor”, satu dari sedikit orang yang berhasil bertahan hidup hingga usia tua dengan gaya hidup tersebut.
Yang tidak terlihat adalah belasan atau puluhan teman sebaya Mbah X di desa tersebut yang punya gaya hidup sama, tetapi sudah meninggal lebih dahulu karena penyakit dan sebagainya.
Ternyata, jauh sebelum para ilmuwan merumuskan bias kognitif ini, Islam telah mengajarkan manusia untuk mewaspadai bias dalam menilai kehidupan. Manusia sering kali silau oleh apa yang tampak di permukaan, lalu mengambil kesimpulan yang salah tentang takdir, rezeki, keselamatan dan kasih sayang Allah.
- Bias Penilaian Rezeki dan Kemuliaan.
Secara alami, manusia rentan terkena survivorship bias spiritual: menganggap bahwa orang yang bergelimang harta dan kariernya melejit adalah orang yang dicintai Allah SWT, sedangkan yang hidupnya penuh ujian berarti sedang dihinakan.
Al-Qur’an merekam dan mengoreksi bias berpikir ini secara eksplisit dalam Surah Al-Fajr ayat 15–17:
“Maka adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu memuliakannya dan memberi kenikmatan, dia berkata: ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Namun apabila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata: ‘Rabbku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak! (Tidak demikian)…”
Allah menegaskan bahwa kekayaan maupun kesempitan hidup keduanya adalah ujian, bukan tolok ukur kasih sayang-Nya. Jangan terjebak melihat orang yang sukses hanya secara materi saja, lalu menyimpulkan bahwa jalan hidup mereka pasti yang paling benar.
- Bahaya Bias Istidraj (Jebakan Kenikmatan).
Pernahkah kita melihat orang yang terang-terangan melanggar syariat, jarang beribadah, atau berbuat zalim, namun bisnisnya tetap meroket dan hidupnya terlihat sangat bahagia?
Jika kita terkena survivorship bias, kita mungkin berpikir: “Ternyata tidak ibadah pun bisa sukses dan selamat kok.”
Padahal, dalam Islam ada fenomena yang dinamakan Istidraj, yaitu dibiarkan sukses di dunia agar makin tersesat, sebelum akhirnya dihisab dengan berat. Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila engkau melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba sesuai keinginannya, padahal dia terus-menerus berada dalam kemaksiatan, maka sesungguhnya itu adalah Istidraj.”
(HR. Ahmad no. 17311)
Sehingga, seharusnya tak hanya melihat orang maksiat yang “tampak selamat” di dunia hari ini, padahal lebih banyak yang dihancurkan Allah atas kemaksiatan itu.
Survivorship bias mengajarkan kita, bahwa dunia ini penuh dengan ilusi. Kita diajarkan untuk tidak menilai kebenaran dari apa yang sekadar “tampak berhasil” dalam pandangan mata.
Ukuran sejati keberhasilan seorang hamba bukan ditentukan dari seberapa tinggi kekayaan dan kuasanya, atau seberapa terkenal namanya di bumi, melainkan dari seberapa taat ia kepada Penciptanya dan seberapa baik akhir hayatnya (husnul khatimah).
Semoga Allah membersihkan pandangan kita dari segala bias duniawi, serta membimbing kita untuk senantiasa menapaki keselamatan hakiki sesuai kebenaranNya.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
–@am.nasrulloh–





























