Baik. Ini versi
RIAUMAG.COM , PEKANBARU——–Di tanah yang dialiri Sungai Siak, di kota yang tumbuh dalam tenang dan tutur yang santun, Pekanbaru menyimpan kisahnya sendiri. Kisah yang tidak ditulis dengan huruf besar, melainkan dibisikkan pelan—dari satu hati ke hati yang lain.
Dari tanah Melayu ini, beredar cerita tentang dua suara.
Putra Permana, vokalis Enau Band.
Ari Lesmana, vokalis Fourtwnty.
Keduanya disebut bersaudara, anak dari Amrisal, yang berdomisili di Pekanbaru. Sebuah cerita yang hidup di antara warung kopi, percakapan senja, dan ingatan orang-orang yang percaya bahwa asal-usul tak pernah benar-benar pergi.
Suara Ari mengalun jauh, menyeberangi pulau dan perasaan, menjadi teman bagi sunyi banyak orang. Sementara Putra berjalan dengan langkah yang lebih senyap, merawat lagu-lagunya bersama Enau Band—seperti orang Melayu merawat ladang: sabar, tekun, dan tidak tergesa-gesa.
Jika kisah ini benar, maka Pekanbaru bukan sekadar kota. Ia adalah ibu yang diam, yang membesarkan anak-anaknya tanpa banyak janji. Di tanah ini, mimpi tidak dipamerkan, hanya dipelihara. Musik pun tumbuh bukan untuk riuh, melainkan untuk makna.
Belum ada kata resmi yang mengikat cerita ini sebagai kebenaran. Namun dalam adat Melayu, tidak semua hal harus disahkan dengan suara keras. Ada hal-hal yang cukup dijaga dalam rasa, diwariskan dalam cerita, dan dihormati dalam diam.
Dan dari tanah Melayu ini, dua suara dipercaya telah berangkat.
Membawa nama sendiri-sendiri.
Namun tetap berpulang pada satu akar yang sama.(DFD1/RIAUMAG.COM)






















