RIAUMAG.COM , PEKANBARU———-Klub Sepakbola EBR United FC melayangkan surat protes ke PSSI Pusat. Setelah tim dari Bumi Lancang Kuning ini tidak mendapatkan satu jatah tim untuk berlaga pada putara nasional Liga 4 tahun 2026. Padahal EBR berhasil meraih runerup Liga 4 Zona Riau.
Protes dituangkan dalam surat resmi karena tidak adanya standarisasi akan tim yang melaju pada Putaran Nasional Liga 4 Piala Presiden Tahun 2025/2026. Hal ini terlihat dari adanya beberapa daerah seperti Provinsi Papua Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Barat dan beberapa provinsi lainnya di Indonesia.
Surat keberatan tersebut dikirimkan manajemen EBR United FC, Kamis (14/5), dan ditujukan langsung kepada Ketua Umum PSSI di Jakarta. Manajemen klub menilai terdapat ketidakjelasan dalam penentuan kuota tim yang berhak tampil di putaran nasional, terutama terkait penggunaan koefisien oleh PSSI dalam menentukan 64 tim peserta nasional.
Melalui perwakilan manajemen, Iwan Syafruddin, EBR United FC mempertanyakan dasar perhitungan koefisien yang digunakan federasi sehingga tim asal Riau tersebut tidak memperoleh tiket ke fase nasional. Hal ini tentunya merugikan pihak yang ingin mengembangkan potensi olahraga di tingkat lokal untuk mengukir prestasi di nasional.
Dalam surat bernomor 02/EBR-FC-/5/2026, manajemen menjelaskan bahwa kompetisi Liga 4 Provinsi Riau musim ini diikuti sembilan tim dengan format setengah kompetisi home-away, dilanjutkan semifinal dan final dengan sistem home-away.

“Ada beberapa daerah yang tim runner up nya ikut masuk ke Liha 4. Nah kondisinya Tim peringkat satu sampai empat melaksanakan total pertandingan sebanyak 12 hingga 14 pertandingan. Dan kami, EBR United FC keluar sebagai runner up,” katanya dalam surat tersebut.
Selain itu, EBR United FC menyoroti adanya sejumlah provinsi lain yang memperoleh kuota lebih dari satu tim ke putaran nasional, meskipun jumlah pertandingan yang dijalani lebih sedikit dibandingkan kompetisi di Riau.
Beberapa daerah yang menjadi sorotan antara lain Liga 4 Papua Barat Daya yang hanya memainkan enam pertandingan hingga final, Liga 4 Kalimantan Barat tujuh pertandingan, Liga 4 Papua Tengah empat pertandingan, serta Liga 4 DKI Jakarta yang total hanya memainkan tujuh pertandingan sampai fase akhir.
Manajemen EBR United FC juga mengutip regulasi Liga 4 Pasal 24 ayat 2 yang menyebutkan penentuan kuota provinsi mengacu pada sejumlah aspek, seperti jumlah peserta, jumlah pertandingan, durasi kompetisi, hingga administrasi berbasis sistem daring SIAP PSSI.
Atas dasar itu, pihak klub meminta penjelasan resmi terkait formula koefisien yang menyebabkan mereka gagal lolos ke putaran nasional. “Jadi mohon penjelasan perhitungan koefisien 64 tim yang lolos putaran nasional, kecuali tim juara tingkat Asprov, yang mengakibatkan tim EBR United FC tidak lolos ke putaran nasional,”tulis Iwan yang kecewa dengan kebijakan tersebut.
Selain mempertanyakan regulasi, EBR United FC juga menyinggung aspek moral dan perjuangan para pemain selama menjalani kompetisi. Harusnya pusat memberika kesempatan putra terbaik daerah untuk dapat berkarya dan mengukir prestasi di bisang olahraga.
“Sepak bola adalah mimpi bagi pemain kami yang telah giat berlatih. Tidak ada yang bisa mengambil mimpi itu, apalagi ketidakadilan,”demikian kutipan penutup surat tersebut.
Sementara itu, Sekretaris Umum Asprov PSSI Riau, Agus Syamsir, mengatakan pihaknya hanya bertanggung jawab sampai pelaksanaan kompetisi tingkat provinsi selesai.
“Ya boleh-boleh saja mengajukan protes. Tapi kalau kompetisi sudah selesai, maka kewenangan ada di PSSI pusat,”ujarnya.
Menurut Agus, peluang untuk memperjuangkan tambahan kuota sebenarnya masih terbuka apabila komunikasi dengan PSSI pusat dilakukan lebih awal, sebelum pembagian grup putaran nasional ditetapkan.
“Kalau dari awal kemarin bisa diurus ke PSSI pusat mungkin masih ada peluang. Kalau sekarang tergantung pusat,” katanya.
Ia juga menyebut persoalan serupa tidak hanya dialami Riau, tetapi juga beberapa daerah lain. “Sumatera Barat juga begitu. Mereka siapkan dua tim, ternyata hanya satu yang lolos. Jadi bukan hanya Riau saja,” tutupnya.
Untuk diketahui, PSSI telah melakukan drawing untuk 64 tim yang akan berlaga pada putaran nasional Liga 4. Namun malang bagi EBR United yang sudah melakukan TC berjalan mempersiapkan tim untuk berlaga di liga 4 putaran nasional, dibatalkan secara sepihak oleh PSSI. Padahal EBR sudah mendapatkan lampu hijau atau satu jalan dari PSSI Riau untuk mewakili Riau ke putaran Nasional.
Tidak hanya EBR United dari Riau saya yang mendapatkan perlakuan tidak adil oleh PSSI pusat, tapi dari tim PSPP Padang Panjang, Sumatera Barat juga dibatalkan oleh PSSI pusat karena jatah Sumatera Barat di Liga 4 juga 1 tim. Sebelumnya PSPP Padang Panjang juga mendapatkan jatah satu tim untuk berlaga di putaran Nasional.
































