Dari Buku Raja Bambang Sutikno
Riaumag.com , Jakarta
JANGAN MENCARIApa yang anda peroleh adalah hasil atau akibat dari pilihan anda. Apa yang anda dapatkan dan apa yang tidak anda dapatkan ditentukan oleh bagaimana anda menggunakan hak serta tanggung-jawab anda. Saran yang selalu saya sampaikan kepada setiap orang adalah: jangan suka mencari kambing hitam. Sportiflah terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain. Jadilah orang yang berani bertanggungjawab, tangan mencencang bahu memikul.
Begitu anda mulai menyalah-nyalahkan orang lain, pada saat itu pula anda menghentikan proses memperbaiki diri. Padahal proses memperbaiki diri itu berawal dari kemauan mengevaluasi diri, bersedia mengakui there is a problem in my side, in my perception or in my feeling. Dengan menjiwai prinsip ini berarti, “Tidak ada orang yang mampu mengoreksi saya kalau saya sendiri tak mau mengoreksi diri. Lebih baik saya memperbaiki diri sendiri sebelum diperbaiki oleh orang lain”. Maka kita akan sadar bahwa baik buruk diri kita adalah di tangan kita, bukan disebabkan oleh si kambing hitam itu.
Kearifan lokal mengajarkan, ketika anda mengarahkan satu telunjuk untuk menyalahkan orang lain, tiga jari (jari tengah, jari manis, kelingking) melengkung mengarah kepada diri anda. Maknanya, setiap satu kali anda menyalahkan orang lain, tiga kali anda ditunjuk untuk mengintrospeksi diri sendiri. Jadi, jangan suka mengarahkan telunjuk kepada orang lain, melainkan ber-empatilah kepada mereka, bukalah telapak tangan sebagai tanda ketulusan hati.
Orang yang mengarahkan telunjuk kepada orang lain atau menjadikan orang lain sebagai kambing hitam sama artinya dia menzolimi orang lain tersebut. Beban yang seharusnya dia pikul, dibebankannya kepada orang lain. Tanggung-jawab yang seharusnya dia tanggung, ditimpakan kepada orang lain. Nanti akan ada waktunya, apa yang dilakukannya itu efeknya akan kembali kepadanya.
KEMAMPUAN MENGGUNAKAN AKAL & BUDI
BERARTI SETIAP ORANG MEMPUNYAI ‘PILIHAN’
DALAM KEBEBASAN & KEKUATAN UNTUK MEMILIH.
CHOICE/FREEWILL
KARENA ITU SETIAP ORANG
BERTANGGUNGJAWAB ATAS SITUASI
& KONDISINYA SAAT INI.
Hidupkanlah semangat mengevaluasi, mengintrospeksi dan mengoreksi diri sendiri. Lihatlah problem sebagai oportuniti. Ketika kita mengakui ada problem, muncullah hasrat mencari solusinya dan mengkalkulasi manfaatnya. Ketika itu pula pikiran dan perasaan kita berputar-putar bergelombang-gelombang mencari sinyal frekwensi yang dapat memberi jawaban.
Ketika otak dan hati kita bekerja mencari solusi, itu saja sudah good exercise. Apa lagi ketika kita sukses menemukan solusi, itu sungguh suatu oportuniti. Suatu keberhasilan harus dilihat sebagai suatu rahmat serta hidayah untuk membuka jalan menuju oportuniti berikutnya. Manusia sejati menerima keberhasilan demi keberhasilannya dengan bersyukur atas rahmat dan hidayah dari Yang Maha Mengetahui.
Nasib manusia ditentukan oleh Respon terhadap Stimulus. Untuk mengubah Nasib, ubahlah Respon. Setiap manusia diberi akal dan budi untuk merespon. Pikirkan dalam-dalam, pertimbangkan masak-masak, sebelum merespon.
Bagaimana anda merespon atas stimulus itulah Hasil (Outcome) yang akan menuntun kemana nasib anda. Stimulus pada dasarnya di luar kontrol kita karena selalu datang dari luar diri kita. Respon sepenuhnya berada dalam kontrol kita karena kita yang harus menentukan sendiri.
You have freedom and power to choose your respond. Itu kekuatan yang diberikan Tuhan kepada setiap individu. It is given. Manfaatkanlah pemberian itu untuk kemaslahatan anda, orang lain dan alam. Janganlah kekuatan itu dijadikan senjata untuk menzolimi, baik menzolimi diri sendiri, orang lain maupun alam atau makhluk lain.
Nasib manusia ditentukan oleh Respon terhadap Stimulus. Untuk mengubah Nasib, ubahlah Respon. Setiap manusia diberi akal dan budi untuk merespon.
Nasib tidak sama dengan taqdir. Nasib seseorang berada ditangannya. Taqdir sepenuhnya ditentukan oleh YME. Adalah taqdir Neni mempunyai ibu bernama Tuti. Sama sekali anak tidak punya pilihan siapa yang akan menjadi ayah dan ibunya. Itu taqdirnya dari Tuhannya.
Adalah respon Yuni terhadap stimulasi kehidupan sehingga dia menjadi isteri ke-dua dari Madek. Prilaku Yuni, perjalanan hidup yang dipilihnya, jalan pikirannya dalam menilai serta merespon berbagai kasus, itulah yang menggiringnya bercerai dari suami pertamanya kemudian menjadi isteri kedua dari Madek yang sudah mempunyai isteri dan anak. Kenapa Madek dilahirkan di Denpasar, bukan di Jakarta? Itu taqdirnya, bukan nasibnya.
Bagaimana Ahok berhasil meraih posisi Bupati di suatu kabupaten yang mayoritas muslim? Kemudian naik menjadi Wakil Gubernur di DKI Jakarta yang juga populasinya mayoritas muslim? Kenapa Obama datang dari ayah yang muslim dengan akar keturunan Afrika? Kemudian Obama menjadi presiden di negara adikuasa yang mayoritas non muslim? Itu takdir mereka. Allah saja yang tahu persis jawabannya karena tidak satu pun di muka bumi dan di jagat raya yang telah, sedang dan akan terjadi tanpa mengikuti skenarioNYA.
ANDA BERTANGGUNGJAWAB
ATAS KEHIDUPAN PRIBADI/PILIHAN ANDA.
STIMULUS + RESPONSE = OUTCOME
S + R = O
UNTUK MENGUBAH HASIL, ANDA HARUS MENGUBAH RESPON ATAS STIMULASI.
BERHENTILAH MENGELUH DAN MENCARI KAMBING HITAM.
Megawati Soekarnoputri tidak pernah bisa menyelesaikan kuliahnya di fakultas psikologi universitas indonesia disebabkan satu dan lain hal, di zaman penuh kecamuk sekitar tahun 1966. Beberapa orang yang mempunyai andil mempersulit Megawati untuk melanjutkan kuliahnya pada zaman itu, bertemu dengan Megawati dalam suatu acara ketika Mega sudah menjadi presiden. Apa kata Mega? “Untung anda menekan saya sehingga saya quit dari kampus, sehingga sekarang saya bisa jadi presiden, kalau tidak begitu mungkin saya tidak pernah jadi presiden”. Yang diomongin menjadi kikuk sendiri.
Megawati memilih untuk merespon dengan bersikap ‘tegas’ ketika Mega dihadapkan dengan situasi harus bersikap. Pilihan anda menjadi respon anda, menelorkan hasil (outcome) yang akan membawa kemana nasib anda. SBY memilih untuk mengundurkan diri dari kabinet yang dipimpin Megawati. Di kemudian hari orang berkomentar: Untung beliau mengundurkan diri dan mengusung kesan ‘dizolimi’, kalau beliau tidak bersikap dan memilih dengan tegas mana mungkin naik menjadi presiden.
Pilihan SBY untuk mengundurkan diri dari kabinet adalah responnya terhadap situasi dan kondisi yang kemudian memberinya hasil (ourcome) yaitu mengantarkannya menduduki kursi presiden, bahkan sampai pula untuk periode yang kedua kalinya.
Pilihan Nelson Mandela untuk bertahan dalam penjara kaum apertheid selama 27 tahun telah menempatkannya pada pisisi tokoh panutan di seantaro dunia. Jika Mega, SBY dan Nelson Mandela menentukan respon yang berbeda ketika itu, hari ini kita mungkin tak akan pernah melihat wajah mereka tampil bersama tokoh-tokoh dunia lainnya.
Pujangga menuliskan; Pendapatmu Pendapatanmu. Seseorang bisa untung besar atau rugi besar yang diakibatkan oleh pendapatnya (apa yang dikatakannya).
Pilihan yang terburuk adalah tidak berani memilih. Sikap yang terburuk adalah tidak berani bersikap. Respon yang terburuk adalah tidak berani merespon, Setiap detik ada stimulus, setiap stimulus harus direspon. Respon anda detik demi detik menuntun nasib anda seterusnya. Marilah kita menggunakan akal dan budi se-efisien dan se-efektif mungkin dalam memberikan respon. Setiap saat, yakinkanlah diri anda bahwa itu the best response you can do.
Demi pilihan terbaik dalam menjalani kehidupan, manusia harus rajin mengevaluasi diri, doyan nasehat menasehati, senang beramal saleh, suka menaati kebenaran dan keteraturan dengan segala kesabaran. Jika tidak maka manusia itu dalam kerugian besar,
(Bersambung)
(rbs/riaumag.com)






















