oleh : Hendri Sayuti
RIAUMAG.COM , PEKANBARU
Banyak yang melihat Muhammadiyah sebagai organisasi “kaya”: kampus di mana-mana, rumah sakit menjamur, aset besar tersebar di seluruh Indonesia.
Tapi ada satu hal yang sering luput dari perhatian:
mengapa pimpinannya justru hidup sederhana?
Ini bukan kebetulan. Ini sistem.
Pertama, kekayaan Muhammadiyah adalah milik institusi, bukan individu.
Aset besar itu tidak pernah “turun” menjadi milik pribadi pengurus. Semua terikat sebagai amal usaha.
Di sini, jabatan tidak membuka akses kekayaan—justru menutup peluang penyalahgunaan.
Kedua, sistem kolektif menjaga semuanya tetap terkendali.
Keputusan tidak bertumpu pada satu orang, tapi pada mekanisme organisasi.
Semakin tinggi posisi, semakin kecil ruang untuk bertindak semaunya.
Ketiga, sejak awal orientasinya bukan akumulasi, tapi pelayanan.
Pendidikan, kesehatan, dan sosial menjadi poros utama.
Artinya, aset harus terus bergerak untuk umat—bukan berhenti di elite.
Keempat, yang dibangun adalah kekuatan sistem, bukan kultus individu.
Muhammadiyah bisa besar karena sistemnya hidup, bukan karena tokoh tertentu menguasai semuanya.
Akibatnya, organisasi bisa “kaya”, tanpa harus melahirkan elite yang ikut “menjadi kaya”.
Dan kelima—ini yang paling kuat—
budaya moralnya tegas: jabatan bukan privilege.
Di Muhammadiyah, jabatan bukan jalan untuk menikmati fasilitas,
tapi jalan untuk memikul amanah.
Bahkan ada semacam etika tak tertulis:
semakin tinggi posisi, semakin dijaga kesederhanaannya.
Inilah yang membuatnya berbeda.
Kaya secara sistem, tapi sederhana secara orang.
Bukan karena tidak mampu hidup mewah,
tapi karena memilih untuk tidak menjadikan jabatan sebagai alat memperkaya diri.
Di saat banyak orang melihat jabatan sebagai tangga menuju kekayaan, Muhammadiyah justru menjadikannya sebagai pagar—agar kekayaan umat tidak jatuh ke tangan segelintir orang.
Follow akun ini untuk mendapatkan pencerahan dan Share agar tetangga juga paham..👍🙏






















