Riaumag.com , Bandung
Flexing katanya pamer, atau biasanya menunjukkan perilaku mereka yang suka pamer kekayaan dan lain sebagainya.
Hal ini fenomena umum sebetulnya, karena hampir Setiap orang senang memperlihatkan hal istimewa. Sehingga bisa jadi, pamer kekayaan menjadi semakin lumrah. Dari mulai yang kekayaannya biasa, sampai yang seperti sultan dan raja.
Lihat saja di sosial media, akan kita jumpai hilir mudik gambar tentang liburan mewah, kendaraan mahal, dan barang lain yang dianggap berharga istimewa.
Apakah selalu salah? Tentu tidak.
Namun wajib tetap waspada. Sehingga flexing perlu kendali & modifikasi agar bisa menjadi kunci pengkondisiannya.
Modifikasi flexing setidaknya ada 2 konsep. Dengannya, kita bisa merasa “paling” atau tumbuh kepedulian untuk “saling”.
Waspada jika ada rasa “paling”, karena flexing-nya berarti karena ingin terlihat itu. Ingin paling dihargai, paling keren, paling sultan dan paling lainnya. Sehingga hasilnya adalah kebanggaan berlebihan, sekaligus dilain pihak bisa jadi ada pihak yang merasa direndahkan.
Namun, bisa juga dimodifikasi dengan rasa “saling”. Flexing-nya karena memang ingin saling mengingatkan, ingin saling memberi semangat, atau ingin saling membantu. Sehingga, lahir kebaikan dan syukur yang lebih besar, semangat yang lebih keren dan tentunya banyak pihak yang mendapatkan manfaat.
Begitulah,
“Saling” dan “Paling” adalah peluang dan tantangan dari Flexing. Niat kita menentukan, caranya pun memberi tanda untuk apa itu dilakukan. Pastikan jaga hati, jaga orientasi, sehingga semua amal memberi arti dan kemuliaan diri.
“Semoga kita bisa terus SALING mengingatkan, bukan merasa PALING memiliki kelebihan”.
Untuk Syawwal terbaik,
–@am.nasrulloh–
(for-riaumag.com)






















