Oleh dr. Zul Asdi Sp.B, M.Kes, M.H
RIAUMAG.COM , PEKANBARU
Cita cita mencapai Indonesia Emas pada tahun 2045, tepat 100 tahun Indonesia merdeka, ramai di gaungkan ,sebagai salah satu pilar pentingnya adalah sumberdaya manusia yang mempunyai kemampuan bersaing di kancah Global, manusia Indonesia unggul.Berkaca dari kondisi sekarang, apakah harapan itu hanya akan menjadi kenyataan atau hanya “utopia”.
Dengan mudah kita bisa membaca data kapabilitas manusia Indonesia, di katakan tingkat IQ masyarakat indonesia sekitar 80 (walaupun IQ bukan satu satunya parameter kapabilitas manusia), bila di bandingkan dengan negara Singapura melebihi angka 100. Sebagai bandingan lain, di katakan nilai normal IQ manusia sekitar 90 sampai dengan 110.
Tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 1 dari 1000 orang yang bisa di sebut pembaca, kontra diksi dengan kenyataan masyarakat Indonesia nomor 5 paling “cerewet” di media sosial.
Masalah Stunting yang masih tinggi merupakan tugas besar yang perlu di selesaikan, upaya kesehatan untuk menyehatkan masyarakat bukan konsentrasi untuk pengobatan masih belum terealisasi dengan baik.
Sedikit merujuk teori pada kaum behavioris mengatakan perilaku manusia lebih banyak di pengaruhi lingkungan. Manusia dapat di kondisikan perilakunya bila ada kekuatan yang bisa merekayasa lingkungan hidup dan kebutuhan manusia dalam kehidupan.
Pengkondisian klasik yang mendukung teori kaum behavioris banyak di lakukan.Maslow salah seorang cendikiawan yang menyampaikan teori kebutuhan, menggambarkan dalam bentuk piramida.
Kebutuhan dasar manusia,pada dasar piramid adalah kebutuhan makan, di lanjutkan kebutuhan akan rasa aman dan ingin di sayang, hal terbawah dari piramida ini merupakan insting dasar makhluk.
Upaya sekedar pemenuhan kebutuhan dasar Manusia , seperti makan , minum gratis , tidak merupakan strategi untuk mencapai Indonesia emas.
Yang di perlukan upaya kesehatan , pendidikan yang mampu meningkatkan kemampuan ekonomi dan memanfaatkan sumber daya alam yang kaya , secara mandiri.
Selanjutnya pada level yang lebih tinggi kebutuhan manusia adalah Penghargaan dan puncaknya Aktualisasi diri.
Belum ada yang memetakan tingkat kebutuhan manusia Indonesia, namun secara konsep selalu akan mengikuti gambar piramida, selalu yang terbanyak orang yang hanya memenuhi kebutuhan dasar.
Sejarah banyak bercerita soal ini, Belanda misalnya, untuk mempertahankan kekuasaan penjajahannya, mengkondisikan orang jajahannya tetap bodoh, hanya beberapa orang di angkat sekedar tukang catat dan lebih sedikit lagi yang berpendidikan tinggi.
Pengkondisian ini juga terlihat nyata pada zaman perbudakan, budak di buat bodoh, sekedar dipakai tenaganya.
Ironinya ada budak yang pada waktu di bebaskan, “bingung dan takut” untuk hidup bebas, tidak tahu harus berbuat apa karena sejak lahir pikiran dan jiwanya tertanam sebagai budak.
Mungkin ini yang di sebut Paulo Fraire, seorang pakar pendidikan didalam bukunya ” pendidikan kaum tertindas”, bebaskan pikirannya dan jiwa yang tertindas.
Berikan pendidikan yang membebaskan sehingga eksistensi diri berubah dari sekedar makan dan rasa aman menjadi karya serta aktulisasi diri , sumber daya yang di butuhkan oleh bangsa dan negara.Melihat pola teori Maslow, memang di mana mana pola masyarakat seperti piramid.
Namun pada masyarakat yang kalangan berpendidikan nya lebih banyak, bentuk piramidnya agak berbeda, orang makin kritis dan berilmu untuk memberikan manfaat bagi kelompok, masyarakat, negara dan kemajuan bangsa.
Begitu juga dalam memilih pemimpin, mereka terdidik dan sadar resiko dalam pemilihan, iming iming kebutuhan makan gratis dan sedikit uang akan sangat tidak bermakna bila di bandingkan nasib bangsa dan negara kedepan.
Tentu tulisan singkat ini tidak bisa menjawab apakah akan dapat tercapai indonesia emas atau tidak tahun 2045.
Namun harapan dan semangat untuk itu tetap perlu di gelorakan, untuk mencapai masyarakat cerdas sejahtera sebagaimana tertulis dalam pembukaan UUD 1945.Sehat cerdas sejahteraSemoga bermanfaatPekanbaru, 26 Desember 2023
(RIAUMAG.COM)
































