Oleh : Mardianto Manan
RIAUMAG.COM ——Hari Jumat di era 1980-an bukan sekadar penanda penutup pekan bagi kami anak-anak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Pangean, melainkan sebuah hari raya kecil yang datang bertamu setiap tujuh hari sekali. Lahir di tahun 1969, masa-masa itu terukir begitu lekat dalam memori—sebuah era ketika denyut nadi kehidupan kampung seakan berirama mengikuti ritme matahari, deru air Batang Kuantan, dan keriuhan pasar pekan.
Dulu, dalam polosnya pikiran anak-anak, saya sempat keliru mengira bahwa sholat Jumat adalah ritual ibadah yang melekat erat pada hari pasar, maka disebut “Sholat Jumatan” Karena pasar pekan di Kuantan bergiliran setiap harinya—dan Pangean mendapat jatah hari Jumat—saya sempat menyangka dengan naifnya bahwa di Baserah yang berpasar hari Sabtu ada “sholat sabtuan”, dan di Inuman yang berpasar hari Minggu ada “sholat mingguan”. Betapa kekeliruan masa kecil itu kini mendatangkan senyum tersendiri. Ternyata, kewajiban suci itu tidak bersandar pada ramainya pedagang, meski kenyataannya pasar di Pangean kala itu memang tumpah ruah sebelum azan berkumandang, lalu serta-merta sunyi begitu para pedagang menggulung kajang atau menurunkan atap tenda darurat mereka.
Dari gelaran pasar mingguan itulah, sebuah istilah yang melegenda hingga kini lahir secara alami: pedagang kaki lima dan pasar jongkok. Para pedagang menggelar dagangan di atas meja berat yang ditopang empat kaki, ditambah satu tiang penopang atap kajang di tengahnya—pas lima kaki penopang. Sementara pembeli dan penjual bertransaksi dalam posisi jongkok, berdesakan dalam kehangatan kebersamaan. Itulah sudut historis otentik yang melahirkan istilah pedagang kaki lima dan pasar jongkok di tanah kelahiran kami.
Ketika Jumat tiba, hati anak-anak sekampung langsung berbunga-bunga. Ada deretan alasan agung yang membuat hari itu begitu istimewa dan dirindukan setengah mati:
1. Belanja Lebih dan Jejak Kasih Almarhum Bapak
Di sinilah tangan kasih sayang almarhum bapak dan omak terasa begitu nyata. Sebagai pencari nafkah abadi yang membanting tulang tanpa kenal lelah demi keluarga, hari Jumat selalu disiapkannya sedikit rezeki lebih agar anaknya bisa ikut merasakan keriangan di pasar. Pecahan uang koin pemberian bapak terasa amat berharga di genggaman jemari kecil saya.
2. Kuliner Nusantara Otentik dan Sate Toge Kutar
Langkah pertama di pasar adalah berburu kuliner kampung. Membeli sate toge kutar yang kelezatannya melegenda dan aroma kuahnya seolah tak tertandingi oleh masakan apa pun hingga hari ini.
3. Berburu Mainan Buatan Alami Masa Lalu
Dunia anak-anak tak lengkap tanpa mainan. Zaman itu, kami tak kenal mainan plastik canggih buatan “Jopang”, apalagi layar gadget atau HP seperti anak-anak zaman now. Semua mainan kami lahir dari kreativitas alami dan buatan tangan sendiri. Namun, di hari pasar, ada mainan seng sederhana yang amat memikat: kapal-kapalan air yang bergerak pakai tenaga uap. Kapal seng itu diisi sedikit air, lalu dinyalakan dengan kapas bergulung yang dibasahi minyak tanah di dalamnya. Begitu api menyala, terdengar bunyi “pot-pot-pot-pot” di dalam baskom air—sebuah mahakarya teknologi masa kecil yang amat membahagiakan! Tak lupa pula membeli sigombuar, atau yang dikenal anak-anak sekarang sebagai balon tiup gelembung.
4. Bacarito Ulak Mudiak di Bawah Batang Sukak
Sambil menunggu azan sholat Jumat berkumandang, kami berkumpul dan duduk beramai-ramai di bawah rindangnya Batang Sukak yang berdiri gagah di tengah pasar. Di sanalah kami duduk melingkar, bacarito ulak mudiak—mengobrol ke sana ke mari tentang hal-hal lucu, urusan sekolah, hingga cerita petualangan kampung bersama kawan-kawan sebaya.
5. Arena Bermain Tradisional di Depan halaman rumah Imit Tek Eli, adalah lokasi sakral tempat kumpul kami setiap hari. Di halaman itulah tempat kami meluapkan kegembiraan: kadang bermain gala-gala (gobak sodor) dengan ketangkasan berlari, hingga main sepak kaliang (sepak kaleng) yang penuh gelak tawa dan semangat kebersamaan.
6. Hari Raya Mingguan dan Ajang Pertemuan Akbar
Pasar Baru Pangean menjadi medan silaturahmi paling hangat. Semua warga dari pelosok kampung Kenegerian Pangean bertemu di sana. Ibadah sholat Jumat pun menjadi puncak acara, saat kami bergelut dan bersenda gurau di pelataran Masjid Taqwa Pasar Baru Pangean maupun Masjid Jamik Koto Tinggi Pangean kala itu.
7. Kebanggaan Baju Baru dan Kebahagiaan Pulang Cepat
Jumat adalah saatnya memakai baju terbaik dan sarung bersih demi menghadap Sang Khalik. Dan yang paling membuat dada bergemuruh gembira: lonceng sekolah berbunyi lebih awal. Pulang cepat dari sekolah—horeee, bahagia sekali!
Kini, ketika usia telah merayap senja dan menembus paruh kedua dari satu abad perjalanan hidup, semua kenangan itu bertransformasi menjadi keabadian dalam ingatan. Waktu telah mengubah banyak hal di tanah Pangean, namun aroma minyak tanah dari kapal-kapalan uap, derai tawa di bawah Batang Sukak, serta bayangan almarhum bapak yang lelah namun tersenyum tulus saat mengulurkan rezeki Jumat, tetap hidup dan hangat di lubuk hati terdalam. Suatu masa yang sederhana, alami, dan tak akan pernah ternilai oleh apa pun.
Alhamdulillahi atas setiap detik kenangan indah itu!




















