RIAUMAG.COM , BANDUNG
Pernikahan sering kali digambarkan sebagai akhir yang bahagia (happy ending) dari sebuah cerita cinta. Padahal, kenyataannya pintu pernikahan justru merupakan babak awal dari sebuah perjalanan panjang yang penuh perjuangan.
Dalam Islam, Sakinah (ketenangan) bukanlah bonus otomatis yang didapat setelah akad nikah selesai diucapkan. Sering kali kita lupa membaca kelanjutan dari Surat Ar-Rum ayat 21, bahwa Allah menumbuhkan Sakinah dengan Mawaddah (cinta) dan Rahmah (kasih sayang) justru agar kita “berpikir dan berproses” dalam menjalaninya.
Ketika iman dilibatkan pada prosesnya, makna pernikahan bergeser dari sekadar “ikatan sosial” menjadi ibadah utama dalam hidup.
- Iman: Mengubah Orientasi dari “Duniawi” Menjadi “Mencari Ridha Ilahi”.
Jika motif menikah hanya untuk memuaskan ekspektasi duniawi seperti status, materi, atau validasi sosial, maka ketenangan akan selalu terasa jauh.
Karena, menurut tinjauan iman, pernikahan adalah ladang muamalah terbesar. Saat orientasi diubah demi mencari ridha Allah, dinamika rumah tangga tidak lagi dipandang dengan kalkulasi untung-rugi, melainkan kesempatan menambah bakti kepada Ilahi. - Dimensi Pendidikan: Rumah Tangga Sebagai Madrasah Tazkiyatun Nafs.
Menurunkan ego dalam pernikahan bukan sekadar trik psikologi agar tidak bertengkar. Di dalam Islam, menundukkan ego adalah bentuk nyata dari tazkiyatun nafs untuk membersihkan diri dengan belajar ikhlas, sabar, dan mengikis penyakit hati lainnya.
Pasangan hidup adalah cermin paling jujur yang dikirimkan Allah untuk memperlihatkan di mana letak kekurangan diri kita yang sebenarnya. Sehingga pernikahan bisa menjadi media refleksi terbaik. - Manajemen Pernikahan Sebagai Bentuk Amanah dan Tanggung Jawab Akhirat.
Sisi praktis dalam rumah tangga dari mulai nafkah, hingga komunikasi sehari-hari, bukan hanya urusan domestik. Dalam Islam, semua itu adalah amanah yang memiliki konsekuensi dunia akhirat.
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari & Muslim)
Akhirnya,
Ketenangan (Sakinah) tidak akan pernah menetap di dalam rumah yang penghuninya sibuk mengejar obsesi duniawi, namun abai terhadap kewajiban di hadapan Penciptanya. Sakinah adalah hadiah dari Allah untuk dua hati beriman yang saling bertaut, yang sepakat menjadikan pernikahan mereka sebagai jembatan menuju surga-Nya.































