RIAUMAG.COM , PEKANBARU——– Dzikir dan doa merupakan kekuatan penting bagi seorang Muslim dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Namun, doa tidak cukup hanya dipanjatkan dengan lisan. Hati, perilaku dan hubungan dengan sesama juga harus dijaga agar tidak menjadi penghalang terkabulnya doa.
Hal tersebut disampaikan Aa Gym dalam kajian yang membahas tentang kekuatan dzikir dan doa serta pentingnya menjaga hati dari berbagai penyakit yang dapat menghambat terkabulnya doa.
Salah satu dzikir yang ditekankan adalah doa Nabi Yunus AS:
“La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin.”
Kalimat tersebut mengandung pengakuan atas keesaan dan keagungan Allah SWT sekaligus pengakuan terhadap kelemahan dan kesalahan diri.
Dzikir Nabi Yunus AS juga menjadi pengingat agar manusia tidak hanya memohon pertolongan ketika menghadapi masalah, tetapi juga berani melakukan introspeksi dan mengakui kesalahan.
Dalam menghadapi persoalan keluarga, termasuk ketika menghadapi anak yang bermasalah, seseorang dianjurkan tidak buru-buru menyalahkan pihak lain.
“Kesalahan apa yang sudah saya lakukan?” menjadi pertanyaan penting yang perlu dikedepankan.
Sikap tersebut berkaitan erat dengan husnuzon, yakni berbaik sangka kepada Allah SWT sekaligus melakukan evaluasi terhadap diri sendiri.
Amal Saleh Bisa Menjadi Wasilah
Dalam kajian tersebut juga disampaikan kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua. Mereka kemudian berdoa kepada Allah SWT dengan menyebut amal saleh yang pernah dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Kisah itu menjadi pelajaran bahwa amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi wasilah dalam memohon pertolongan Allah SWT.
Karena itu, setiap kebaikan yang dilakukan tanpa pamrih hendaknya tidak dianggap sia-sia. Bisa jadi, amal tersebut menjadi jalan pertolongan Allah ketika seseorang berada dalam kesulitan.
Kezaliman Bisa Menghalangi Doa
Aa Gym juga mengingatkan bahwa salah satu penghalang besar terkabulnya doa adalah kezaliman.
Di era digital, kezaliman tidak selalu berbentuk kekerasan secara fisik. Perbuatan seperti menyebarkan fitnah, hoaks, gibah dan merusak nama baik seseorang melalui media sosial juga dapat menjadi bentuk kezaliman.
Begitu pula dalam kehidupan rumah tangga. Perlakuan buruk terhadap pasangan, melakukan silent treatment, maupun menahan hak orang lain, termasuk hak waris, tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele.
Sebab, di balik doa yang dipanjatkan kepada Allah, terdapat hak-hak manusia yang juga harus diselesaikan.
Jangan Sibuk Membalas Fitnah
Pesan lainnya adalah bagaimana menghadapi fitnah dari orang lain.
Ketika seseorang difitnah, tidak perlu menghabiskan seluruh energi untuk membalas atau terus-menerus melakukan klarifikasi. Yang lebih penting adalah menjaga diri agar tidak melakukan kezaliman yang sama.
Fitnah, menurut pesan kajian tersebut, pada akhirnya akan terbuka dengan sendirinya. Ibarat buah yang sudah busuk, ia akan jatuh pada waktunya.
Karena itu, manusia sebaiknya lebih fokus mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian daripada sibuk membalas perkataan dan perlakuan orang lain.
Pada akhirnya, kekuatan doa bukan hanya terletak pada seberapa sering seseorang meminta kepada Allah, tetapi juga pada bagaimana ia menjaga hati, memperbaiki diri, meninggalkan kezaliman dan memperbanyak amal saleh.
Jangan hanya meminta doa dikabulkan. Pastikan pula tidak ada hak manusia yang kita zalimi di balik doa yang kita panjatkan.























