RIAUMAG.COM , BANDUNG —-
Selalu ada hikmah bagi kita atas semua keadaan. Termasuk dari musibah dan bencana. Salah satunya bagaimana solidaritas bisa menjadi penolong utama dalam pemulihan pasca bencana, sekaligus menjadi dukungan bagi para penolong yang membantu bencana.
Mari kita cek fakta-fakta yang demikian “indah” ini.
Daniel P. Aldrich, seorang ilmuwan terkemuka yang meneliti pemulihan bencana (termasuk Tsunami 2004 dan Gempa Jepang 2011), menemukan fakta bahwa koneksi sosial lebih penting daripada bantuan materi fisik dalam pemulihan jangka panjang.
Teori “The Stress-Buffering Hypothesis” sebagai salah satu teori paling fundamental dalam psikologi kesehatan menyatakan bahwa dukungan sosial bertindak sebagai pelindung (buffer) terhadap dampak patogenik dari stres berat, seperti bencana alam.
Pada penelitian klasik yang dilakukan oleh Cohen dan Wills (1985) menemukan fakta bahwa individu yang memiliki dukungan sosial yang kuat (solidaritas) menunjukkan gejala fisik dan psikologis yang jauh lebih rendah saat menghadapi krisis dibandingkan mereka yang terisolasi. Dukungan ini mengubah cara otak mempersepsikan ancaman—dari sesuatu yang “tidak mungkin dihadapi” menjadi “bisa dihadapi bersama”.
Ya, itulah kebersamaan dan solidaritas. Bisa memberikan dukungan sekaligus persepsi bahwa semua bisa dihadapi bersama.
Maka, hadirnya kita pada segala situasi adalah bagian dari dukungan terbaik dengan semangat solidaritas dan kebersamaan.
Namun, berita baiknya lagi…
Terdapat tinjauan yang disebut Neurobiologi “Helper’s High”. Konsep ini menyatakan bahwa ada manfaat luar biasa bagi mereka yang seringkali memberikan kepedulian dan bantuan.
Solidaritas adalah jalan dua arah. Memberi bantuan ternyata mengaktifkan bagian otak yang sama dengan saat kita menerima hadiah atau saat mendapatkan makanan lezat.
Studi oleh Moll et al. (2006) menunjukkan bahwa perilaku altruistik (menolong orang lain) akan mengaktifkan sistem reward mesolimbik di otak. Ini memicu pelepasan dopamin dan endorfin.
Fenomena ini sering disebut Helper’s High. Bagi relawan atau donatur, tindakan solidaritas bencana secara harfiah akan mengurangi kecemasan mereka sendiri dan meningkatkan perasaan bermakna (sense of purpose). Tentu, hal ini merupakan pelindung kuat terhadap gangguan mental.
MasyaAllah, kebersamaan penolong dengan yang dibantu ternyata adalah mutualisme hidup yang begitu mengagumkan.
Sudah mencoba?
–@am.nasrulloh–






















