Oleh : Doktor Saidul Amin MA
RIAUMAG.COM
Agak larut malam saya baru kembali ke hotel setelah mengikuti acara KNEKS dan Bank Indonesia di International Expo, Kemayoran, Jakarta. Tidur sebentar, lalu jam 3 pagi bangun dan bersiap ke bandara Sukarno Hatta menuju Jogjakarta. Jam 7.30 boarding dan pesawatpun take off beberapa menit kemudian.
Sesampainya di Jogjakarta, dengan keretaapi saya ke station Tugu. Duduk di sebelah jendela menikmati pemandangan desa yang asri dan indah. Hamparan sawah, sungai dan lembah seakan berlari berpacu dengan kereta. Lebih kurang 40 menit sampai di jantung kota Jogjakarta.
Jarak dari Tugu ke kantor Pusat PP Muhammadiyah tidak terlalu jauh. Oleh karena itu Grab motor adalah pilihan terbaik. Saya buka aplikasi Grab dan memesan untuk ke ke tujuan. Muncul nama Tobing dan plat nomor motornya. Waduh ternyata ada tukang ojol orang batak di Jogja. Hebat juga. Tak lama kemudian si Tobing datang. “Mas saidul ya”, katanya. Aku tersenyum dan berkata “Halak batak na awu” (orang bataknya aku). Dia tersenyum ceria Dan menyalamku, sambil berkata : “Bah halak kita na ho” (bah, orang kitanya kau). Setelah duduk aku bertanya, “Tobing darimana kau lae” ? Sambil menjalankan motor, dia menjawab “Kampungku di Tarutung, tapi sudah 30 tahun tinggal di Jogja”. Di antara bisingnya kenderaan saya bertanya “Kenapa tak pulang kampung saja menikmati hari tua ” ? Di menjawab “Rasanya lebih enak tinggal di Jogja lae, lebih tenang di sini. Pergaulanku juga banyak di sini. Di Tarutung sudah tidak ada kawan sepermainan masa muda dulu lagi”. Kami bercerita dalam bahasa batak bercampur Indonesia. Saat sampai di depan kantor PP Muhammadiyah, saya ingin membayar ongkos Grab. Si Tobing menolak uang yang saya berikan dan berkata, dongan sahuta na hita. Ulang dibayar. (Jangan dibayar, kita ini sekampung dan jumpa sekali-kali).
Waduh hanya dengan kalimat halak batak na awu (orang bataknya aku), muncul keakraban, lalu berujung kepada ongkos Grab yang gratis. Aku bangga jadi bagian dari orang batak.
































