Oleh: Darmawi Ketua ASITA Sumatera Barat
RIAUMAG.COM , PADANG——-Ujung tahun sejatinya menjadi momentum emas bagi sektor pariwisata. Libur panjang, arus wisatawan meningkat, dan perputaran ekonomi daerah bergerak lebih cepat. Namun, ketika bencana datang di penghujung tahun—banjir, longsor, gempa, atau cuaca ekstrem—pariwisata menjadi sektor pertama yang terdampak dan paling rentan terhadap penurunan kepercayaan publik.
Sumatera Barat adalah daerah yang dianugerahi keindahan alam dan kekayaan budaya luar biasa. Di saat yang sama, kita juga hidup berdampingan dengan potensi bencana alam. Kondisi ini menempatkan pariwisata pada posisi yang dilematis: antara peluang besar dan risiko yang tidak kecil. Ketika bencana terjadi, bukan hanya infrastruktur yang rusak, tetapi citra destinasi ikut dipertaruhkan.
Dalam era digital saat ini, satu peristiwa dapat menyebar luas dalam hitungan menit. Narasi negatif, gambar kerusakan, dan informasi yang tidak utuh kerap membentuk persepsi publik bahwa daerah terdampak tidak aman untuk dikunjungi.
Jika tidak dikelola dengan baik, persepsi inilah yang menjadi “bencana kedua” bagi pariwisata—lebih lama pulih dan berdampak luas pada pelaku usaha.
Di sinilah peran penting seluruh pemangku kepentingan pariwisata, khususnya para pelaku industri. Kita tidak bisa hanya menunggu keadaan normal kembali. Pelaku pariwisata dituntut untuk kreatif dan inovatif, menghadirkan strategi adaptif tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan empati terhadap korban bencana.
Kreativitas dapat diwujudkan melalui penyesuaian paket wisata, promosi destinasi yang aman dan siap dikunjungi, serta penguatan narasi bahwa pariwisata Sumatera Barat adalah pariwisata yang tangguh. Inovasi juga berarti memperkuat kolaborasi—antara pelaku usaha, pemerintah daerah, komunitas, dan media—agar informasi yang sampai ke publik bersifat akurat, berimbang, dan membangun kepercayaan.
Lebih dari itu, bencana harus menjadi momentum refleksi. Pariwisata ke depan tidak cukup hanya menjual keindahan, tetapi juga harus menampilkan kesiapsiagaan, manajemen risiko, dan keberlanjutan. Wisatawan masa kini semakin sadar akan aspek keamanan dan tanggung jawab sosial destinasi yang mereka kunjungi.
ASITA sebagai mitra strategis pemerintah terus mendorong anggotanya untuk beradaptasi dengan perubahan, memperkuat standar layanan, dan membangun pariwisata yang resilien. Karena pada akhirnya, pariwisata bukan hanya tentang perjalanan, tetapi tentang harapan—bagi pelaku usaha, masyarakat lokal, dan masa depan ekonomi daerah.
Ketika bencana hadir di ujung tahun, kita tidak boleh kehilangan arah. Justru di sanalah kreativitas diuji, inovasi dibutuhkan, dan komitmen bersama harus diperkuat agar citra pariwisata tetap terjaga dan bangkit lebih kuat dari sebelumnya.




























