Riaumag.com , Pekanbaru
Sejarah Qurban tak lepas dari peristiwa pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS. Diceritakan, Nabi Ibrahim bermimpi bahwa Allah memerintahkan dia untuk mengorbankan putra satu-satunya, Ismail.
Dalam pengabdiannya kepada Allah, Ibrahim setuju untuk mengikuti mimpinya dan melakukan pengorbanan dengan menyembelih Ismail.
Namun, saat hendak menyembelih, Allah turun tangan dan mengirimkan seekor domba jantan untuk dikorbankan menggantikan Ismail. Ismail selamat karena Ibrahim membuktikan bahwa dia akan mengorbankan putranya sebagai tindakan takwa, meskipun kehilangan akan didapatnya. Amalan kurban terus dilakukan sebagai pengingat ketaatan Ibrahim kepada Allah.
Berkurban hukumnya sunah, sebagai pengingat atas kejadian besar itu, juga agar manusia taat dan berserah diri kepada Allah SWT, dan agar manusia makin mengerti bahwa Allah tidak hendak menghinakan manusia dengan cobaan, serta tidak ingin menganiaya manusia dengan ujian.
Dari peristiwa ini, juga menjadi pelajaran bahwa Allah menghendaki agar kita bersegera memenuhi panggilan tugas dan kewajiban secara total.
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: ”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(stwan/riaumag.com)
































