
RIAUMAG13—-











Pembinaan Usia Dini Kembali Disentil, Kata Pengamat Masih Belum Optimal
Mantan pemain Timnas Indonesia, Rochi Putiray kembali menyinggung tentang program pembinaan usia dini di Indonesia yang dianggapnya masih belum optimal.BolaCom | Vincentius AtmajaDiterbitkan 13 November 2025, 18:00 WIB
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5393845/original/026693900_1761616852-betting.jpg)
RIAUMAG13—- Timnas Indonesia semakin bersinar dengan prestasi yang diraih, mulai dari kelompok usia maupun kelas senior. Dalam beberapa tahun terakhir Timnas Indonesia U-17, U-20, U-22, hingga senior mampu berbicara banyak di level Internasional.
Timnas Indonesia senior hampir saja mewujudkan impian lolos ke Piala Dunia 2026 sebelum terganjal di putaran keempat kualifikasi. Timnas Indonesia U-23 juga moncer di Piala Asia U-23 dan hampir saja pergi ke Olimpiade.
Kemudian ada Timnas Indonesia U-20 yang melejit di Piala Asia U-20 era Shin Tae-yong, Terbaru adalah pencapaian apik Timnas Indonesia U-17 di Piala Dunia U-17 2025, dengan mencatat sejarah kemenangan pertama ketika menggasak Honduras meski harus terhenti di fase grup.
Banyak pihak yang berharap alangkah baiknya jika program pembinaan sepak bola usia muda di Indonesia semakin diperhatikan lagi. Upaya tersebut bakal lebih membuat Timnas Indonesia di masa depan lebih kuat.
Timnas Indonesia dari level muda hingga senior diisi oleh pemain-pemain naturalisasi yang memang punya garis keturunan Indonesia. Keberadaan seperti Jay Idzes, Kevin Diks, Calvin Verdonk, Ole Romeny, Rafael Struick, Mauro Zijlstra, Jens Raven, hingga Mathew Baker, membawa pengaruh dalam kualitas permainan skuad Garuda.
Diakui Rochi Putiray tak memandang hal itu sebagai sebuah hal yang salah, sebab pemain-pemain naturalisasi memang punya hak untuk membela negaranya. Hanya, ia perlu menyoroti peran PSSI agar tidak melupakan pembinaan dalam negeri sendiri.
“Untuk program naturalisasi, setujunya karena memang kitanya yang belum siap ke level yang lebih di atas. Seharusnya federasi mencari solusi yang artinya bagaimana dalam 10 tahun ke depan mencetak pemain, bukan naturalisasi yang kita cari,” ungkap pria 55 tahun.
“Taruhlah bagaimana agar 10 tahun ke depan dari anak-anak 12 tahun yang ada di seluruh Indonesia, 50 sampai 70 persen bisa ada di timnas. Bagaimana caranya? Ya sudah jalanin programnya ataupun dalam kalender PSSI yang mana yang harus dibikin. Edukasi apa yang harus dikasih ke daerah-daerah yang harus cari solusi,” tegasnya.
“Naturalisasi baru ada hampir 10 tahun terakhir. Artinya kita butuh naturalisasi, kita butuh sesuatu yang baru karena memang di tempat kita enggak ada. Tapi jangan lupakan pembinaan usia dini di negeri sendiri,” lanjut bomber Timnas Indonesia di era 90-an.































