
RIAUMAG13—-Rafael Struick menjalani kariernya di Indonesia dengan pengalaman baru yang datang hampir setiap pekan. Penyerang Dewa United dan Timnas Indonesia U-22 itu membagikan ceritanya dalam YouTube Sport77 Official.
Pertanyaan mengenai kualitas liga Indonesia menjadi satu di antara topik yang dibahas. Struick meresponsnya dengan menarik karena jawabannya muncul dari pengalaman yang ia jalani.
“Tidak. Jujur saja semua yang bilang begitu, semua orang Indonesia mungkin tidak pernah main sepak bola di level ini. Jadi tentu levelnya berbeda dengan Eropa. Sepak bola berbeda,” ujar Struick.
Struick menggambarkan gaya bermain di Eropa dan Indonesia melalui sudut pandangnya. Dia memaparkan bahwa setiap negara memiliki karakter sepak bola yang unik.
“Saya tidak bilang itu sangat buruk, hanya berbeda. Di Eropa semua ingin bermain sepak bola seperti tiki-taka. Di Indonesia lebih seperti tendang bola, serang balik, sedikit lebih banyak kick and rush,” jelasnya.
Pemain Asing Menaikkan Level Kompetisi
:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,425,20,0)/kly-media-production/medias/5416963/original/015735200_1763484211-20251118BL_Timnas_Indonesia_Vs_Mali-51.JPG)
Timnas Indonesia U-22 meraih hasil imbang 22 versus Mali dalam uji coba di Stadion Pakansari, Bogor, Selasa (18/11/2025). Rafael Struick mencetak gol kedua. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)
Seiring perjalanan kariernya bersama Dewa United, Struick mulai memahami karakteristik kompetisi di Indonesia. Dia menyadari kualitas liga tidak bisa disimpulkan hanya dari apa yang dibicarakan orang.
“Itu berbeda tapi jujur levelnya tidak seburuk itu karena kamu lihat sekarang. Saya bisa bilang Dewa United punya tim bagus, punya pemain bagus,” ucap Struick.
Kehadiran tujuh pemain asing dalam starting eleven juga menjadi bagian yang ia perhatikan. Struick melihat bagaimana perubahan regulasi tersebut membuat pertandingan semakin intens.
“Semua orang bilang begitu, tapi kami sulit di liga, karena liga tidak buruk. Dan juga pemain asing setiap tim bisa punya tujuh orang di starting eleven,” tuturnya.
Menurutnya, para pemain asing yang datang membawa warna berbeda di setiap klub. Berbagai legiun impor menciptakan tantangan baru sekaligus standar permainan yang lebih tinggi.
“Tapi mereka juga menaikkan level, semua pemain Brasil, pemain asing. Jadi untuk orang yang bilang liga buruk, kamu bisa bilang semaumu, tapi Liga Indonesia tidak seburuk itu,” ungkap mantan pemain ADO Den Haag dan Brisbane Roar itu.































