
RIAUMAG13——–Indonesia tetap tersingkir karena kalah selisih gol dari Malaysia sebagai runner-up terbaik.
Buntut dari kegagalan tersebut, PSSI mendepak Indra Sjafri dari kursi pelatih. Sementara, Sumardji, yang selama ini menjabat sebagai manajer timnas, memilih mundur.
Pergantian Ketum PSSI dan perombakan pelatih tak jua membawa dampaik signifikan bagi kemajuan timnas. Program naturalisasi juga mulai dipertanyakan kelangsungannya.
Siapa yang Bertanggung Jawab
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5437114/original/047067300_1765202661-8.jpg)
Serangan demi serangan dilancarkan dan sempat merepotkan barisan pertahanan Filipina. Tampak dalam foto, pemain Timnas Indonesia U-22, Dony Tri Pamungkas (kanan), berebut bola dengan pemain Filipina, Gabriel Guimaraes, pada laga perdana Grup C SEA Games 2025 di Stadion 700th Anniversary, Chiang Mai, Thailand, Senin (8/12/2025). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)
Lantas, bagaimana dengan posisi Erick Thohir sebagai Ketum PSSI? Pengamat sepak bola nasional, Pangeran Siahaan, via kanal YouTube Liputan6 Sport ikut angkat suara ihwal kegagalan timnas di Thailand.
“Ini sudah pasti penurunan prestasi ya. Karena kan SEA Games sebelumnya bisa juara, bisa emas kan. Dan ini terjadi momennya dalam dinamika politik sepak bola. Jadi bukan sepak bola politik. Politik sepak bola yang juga lagi enggak asyik sebenarnya buat federasi,” kata Pangeran.
“Kemarin sentimennya masih jelek gara-gara enggak lolos Piala Dunia 2026. Lalu diharapkan di SEA Games bisa jadi penghibur ya. Walaupun menurut gua kalaupun menang juga enggak menghibur-menghibur banget sih,” imbuhnya.
Sentimen Publik
:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,425,20,0)/kly-media-production/medias/5437083/original/062081600_1765199420-20251208BL_Timnas_Indonesia_U-22_Vs_Filipina_SEA_Games_2025-39.jpg)
Pemain Timnas Indonesia U-17, Rahmat Arjuna, saat bertanding melawan Filipina U-22 pada lanjutan SEA Games 2025 di 700th Anniversary of Chiang Mai Stadium. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)
Rentetan kegagalan membuat PSSI selaku federasi menjadi pusing untuk bisa menjawab dan mengembalikan sentimen publik jadi lebih positif.
“Gua sih orang yang tidak begitu suka sebanarnya kalau lihat kita jangan menyalahkan siapa-siapa gitu kan. Enggak bisalah. Maksud gua yang namanya pemegang otoritas, pemegang kekuasaan, dalam hal ini urusan sepak bola ya pasti harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi”
“Kalau dibilang katanya kita tidak usah saling menyalahkan, ya berarti kan enggak ada yang bertanggung jawab atas hasilnya kan ya. Itu parah sih”
Tanggung Jawab
Jadi siapa yang paling bertanggung jawab soal terpuruknya Timnas Indonesia U-22 di SEA Games 2025?
“Sudah pasti yang ngurusin SEA Games-lah. Yang ngurusin timnas kita kaitannya sama SEA Games. Apakah ada andil pelatih di sana? Iya. Apakah ada federasi yang, kan gini kan. Kayak gimanapun kan tim nasional ini di level mana pun pelatih dan pemain itu urusan di lapangan. Urusan di luar lapangannya kan urusan ya manajemen, urusan federasi,” ujarnya.
“Jadi ya kalau kemarin ketika di SEA Games sebelumnya bisa juara dapat emas itu adalah prestasi. Nah, siapa pun yang mengklaim itu adalah prestasinya mereka, ya sekarang harus bertanggung jawab kalau misalnya gagal kan ya. Kan logika sederhana saja sebenarnya,” pungkas Pangeran yang sempat menjadi penulis di Supersoccer.































