RIAUMAG.COM———Ceramah Adi Hidayat atau yang akrab disapa UAH viral di media sosial setelah potongan videonya menyebut praktik suap seolah “tidak berdosa”. Potongan video tersebut memicu beragam reaksi warganet karena dianggap menimbulkan salah tafsir.
Namun, dalam penjelasan lengkap ceramahnya, UAH justru sedang menggunakan gaya bahasa ironi untuk menyindir betapa parahnya dampak suap dalam kehidupan sosial dan pemerintahan. Ia menegaskan bahwa dalam ajaran Islam, suap merupakan perbuatan tercela yang mendapat ancaman berat.
UAH kemudian mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah:
“Rasulullah SAW melaknat penyuap dan penerima suap.”
(HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Laknat Allah atas pemberi suap, penerima suap, dan perantara di antara keduanya.”
Menurut UAH, hadis tersebut menunjukkan bahwa suap bukan dosa ringan. Ia bahkan menggambarkan praktik suap sebagai bentuk “pembunuhan perlahan” terhadap integritas, keadilan, dan moral masyarakat.
“Kerusakannya luar biasa. Orang benar bisa kalah, hukum bisa dibelokkan, amanah bisa dijual,” demikian inti penjelasan UAH dalam ceramahnya.
Potongan video yang beredar tanpa konteks penuh membuat sebagian publik salah memahami maksud ceramah tersebut. Banyak pihak kemudian mengingatkan pentingnya menyimak isi ceramah secara utuh agar tidak terjadi kesimpulan keliru.
Ceramah UAH itu kembali memunculkan diskusi publik mengenai bahaya korupsi dan suap yang masih menjadi persoalan serius di Indonesia.


























