RIAUMAG.COM , SUBANG——– Aksi seorang pria yang berpura-pura kehilangan kaki untuk mengemis di kawasan Pantura, Subang, Jawa Barat, terbongkar setelah mendapat perhatian Kang Dedi Mulyadi.

Pria tersebut sebelumnya terlihat mengemis dengan kondisi seolah-olah mengalami cacat pada bagian kaki. Dengan posisi tubuh yang dibuat sedemikian rupa, ia berusaha menarik simpati para pengendara yang melintas dan memberikan uang.
Namun, penyamaran itu akhirnya terbongkar ketika Kang Dedi mendatangi dan memeriksa langsung kondisi pria tersebut di hadapan warga.
Dalam pemeriksaan tersebut, terungkap bahwa kaki pria itu sebenarnya dalam kondisi utuh. Ia hanya melipat kakinya ke belakang sehingga dari kejauhan tampak seperti kehilangan salah satu kakinya.
Kang Dedi kemudian meminta pria tersebut menunjukkan kondisi sebenarnya. Warga yang menyaksikan pemeriksaan itu pun dibuat terkejut setelah mengetahui bahwa aksi tersebut ternyata hanya sebuah modus untuk mendapatkan belas kasihan.
Yang lebih mengejutkan, dari hasil uang yang dikumpulkan, pria tersebut mengaku mampu memperoleh sekitar Rp500 ribu dalam sehari dari aktivitas mengemis dengan modus tersebut.
Jumlah itu menunjukkan bahwa aksi berpura-pura sebagai penyandang disabilitas tersebut bukan sekadar dilakukan sesekali, tetapi telah menjadi cara untuk mendapatkan penghasilan dari rasa iba masyarakat.
Pria itu kemudian mengaku berasal dari Soreang, Kabupaten Bandung. Selama menjalankan aksinya di wilayah Subang, ia tinggal di sebuah rumah kontrakan.
Meski menemukan adanya modus penipuan terhadap masyarakat, Kang Dedi tidak langsung memilih pendekatan hukuman. Ia justru menawarkan pembinaan agar pria tersebut meninggalkan kebiasaan mengemis dan mencari penghasilan dengan cara yang lebih baik.
Kang Dedi menawarkan agar pria tersebut mendapatkan pembinaan di pesantren. Harapannya, ia dapat memperbaiki perilaku, meninggalkan praktik menipu masyarakat, dan kembali menjalani kehidupan dengan pekerjaan yang halal.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat agar tetap berhati-hati ketika memberikan bantuan kepada orang yang mengaku membutuhkan.
Di balik aksi meminta belas kasihan, ternyata bisa saja terdapat modus yang sengaja dibuat untuk mengecoh masyarakat. Namun, di sisi lain, pembinaan dan kesempatan untuk berubah tetap menjadi jalan penting agar mereka dapat kembali mencari rezeki dengan cara yang benar.





















