RIAUMAG.COM , SINGAPORE———-Tidak banyak yang mengetahui bahwa sosok di balik lagu kebangsaan Singapura, Majulah Singapura, merupakan seorang perantau keturunan Minangkabau yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat.
Ia adalah Zubir Said, yang lahir pada 22 Juli 1907 di Bukittinggi dan wafat di Singapura pada 16 November 1987. Zubir berasal dari keluarga Minangkabau. Ayahnya, Muhamad Said Sanang, dikenal sebagai tokoh masyarakat dan penghulu di daerah asalnya.

Sejak kecil, Zubir telah memiliki ketertarikan yang kuat terhadap musik. Meski sempat mendapat penolakan dari ayahnya yang menginginkan dirinya mengikuti jalan kehidupan yang lebih sesuai dengan tradisi keluarga, Zubir memilih merantau.
Pada 1928, dalam usia sekitar 21 tahun, ia meninggalkan tanah kelahirannya menuju Singapura. Di negeri rantau itu, Zubir membangun karier sebagai musisi, komponis dan pengarah musik. Ia kemudian terlibat dalam industri film Melayu dan menghasilkan lebih dari 1.500 karya musik.
Salah satu karya terbesarnya adalah Majulah Singapura, yang diciptakannya pada 1958 atas permintaan pemerintah Kota Singapura untuk sebuah acara di Victoria Theatre.

Lagu tersebut kemudian secara resmi diperkenalkan sebagai lagu kebangsaan Singapura pada 3 Desember 1959. Ketika Singapura menjadi negara merdeka pada 1965, Majulah Singapura tetap ditetapkan sebagai lagu kebangsaan.
Kisah Zubir Said menjadi gambaran menarik tentang perjalanan seorang anak Minangkabau yang merantau jauh dari kampung halaman, kemudian menghasilkan karya yang menjadi simbol sebuah negara.
Tradisi merantau yang begitu kuat dalam budaya Minangkabau seakan menemukan gambaran nyata dalam perjalanan hidup Zubir. Dari Bukittinggi ia berangkat ke Singapura, membangun kehidupan, berkarya, dan akhirnya meninggalkan warisan yang dikenang oleh jutaan rakyat Singapura.
Yang juga menarik, Zubir tidak memutus hubungan dengan tanah asalnya. Dalam perjalanan hidupnya, ia tetap memperhatikan keluarga dan kerabatnya di Sumatera.

Keturunan Zubir Said kemudian tersebar di beberapa negara. Putrinya, Rohana Zubir, turut menjaga warisan sang ayah dan menulis buku biografi Zubir Said: The Composer of Majulah Singapura. Sementara putranya, Sujono Zubir, mengikuti jejak sang ayah di dunia musik dan kemudian menetap di Swiss.
Kisah Zubir Said menjadi pengingat bahwa rantau tidak selalu berarti meninggalkan kampung halaman. Seorang perantau dapat membawa nama, nilai dan identitas tanah kelahirannya jauh ke negeri orang, bahkan meninggalkan jejak dalam sejarah bangsa lain.
Bagi masyarakat Minangkabau, khususnya generasi muda, perjalanan hidup Zubir Said menjadi salah satu contoh bahwa semangat merantau, kerja keras dan kecintaan terhadap seni dapat melahirkan karya besar yang melampaui batas negara.
Dari Bukittinggi, seorang anak Minangkabau berangkat merantau. Di Singapura, ia menciptakan sebuah lagu. Dan hingga hari ini, setiap kali Majulah Singapura dikumandangkan, nama Zubir Said tetap menjadi bagian dari sejarah negeri tersebut.(HJD1/RIAUMAG.COM)





























