Oleh: Mardianto Manan
RIAUMAG.COM ———Sembilan puluh sekian tahun lalu, tepat pada 28 Oktober 1928, tanah Nusantara ini menjadi saksi sebuah ikrar monumental. Anak-anak muda dari berbagai ceruk negeri—dari Jong Java, Jong Sumatra, hingga Jong Celebes—duduk selingkar, melepaskan ego kedaerahan, lalu bertaut jemari mengumandangkan Sumpah Pemuda. Bertumpah darah satu, berbangsa satu, menjunjung bahasa persatuan: Indonesia. Sebuah momentum di mana akal sehat dan jiwa kebangsaan berada di puncak puncaknya.
Namun, menatap realita hari ini, miris rasa di dada. Roh persatuan itu seolah menguap, berganti menjadi apa yang patut kita sebut: Sumpah Serapah.
Lihatlah panggung politik dan media sosial kita hari ini. Nusantara tidak lagi bertaut karena cita-cita bersama, melainkan terbelah akibat fanatisme buta. Kita terkotak-kotak dalam kubu: pro-pemerintah hari ini versus pendukung rejim lalu. Narasi yang mengemuka bukan lagi soal bagaimana membangun bangsa, melainkan saling telanjang keburukan.
Isu ijazah palsu sang bapak hingga ijazah palsu sang anak menjadi bahan gorengan tiada henti. Yang satu berteriak di Mahkamah Konstitusi bahwa bukti tidak ditemukan; yang seberang membalas dengan nada menantang, “Ada kok, tunggu tanggal mainnya!”
Pertanyaan sederhananya secara akal sehat: kalau memang ada, mengapa mesti main petak umpet? Mengapa tak dibentangkan saja di atas meja terang benderang agar riuh ini usai?
Di sinilah letak kejenakaan sekaligus tragedi bangsa ini. Politisi dan simpatisan lebih sibuk memelihara drama ketimbang menyelesaikan substansi. Drama dibiarkan menggantung agar riuh tetap terjaga, sementara rakyat di bawah terus diberi makan prasangka. Energi bangsa habis hanya untuk memperdebatkan kertas lembaran, sementara keadilan dan kesejahteraan rakyat justru terabaikan di pojok ruangan.
Sumpah Pemuda dahulu lahir dari keberanian anak muda menatap masa depan. Sumpah Serapah hari ini lahir dari ketakutan para elit dan pendukungnya kehilangan panggung masa lalu dan kekuasaan masa depan. Dahulu kita bersatu melawan penjajah luar, sekarang kita berseteru menuruti syahwat politik segelintir kelompok.
Hari peringatan Sumpah Pemuda seharusnya bukan sekadar seremoni tiup lilin atau upacara berbaris rapi memakai baju adat. Hari ini harus menjadi momen menampar wajah kita sendiri di depan cermin kebangsaan.
Apakah kita ingin meneruskan sejarah sebagai bangsa pemenang yang diikat oleh ikrar luhur 1928, atau kita pilih menjadi bangsa kerdil yang hobi saling melontarkan sumpah serapah hanya karena beda selera politik?
Sudah saatnya akal sehat dipulihkan. Hentikan sandiwara “tunggu tanggal mainnya”. Kembalikan panggung publik kepada isu-isu substansial: harga beras yang mencekik, ruang hidup rakyat yang tergerus, dan masa depan generasi muda yang kian samar. Jika tidak, jangan salahkan sejarah jika kelak mencatat: bangsa ini pernah bersumpah untuk bersatu, namun hancur karena lupa cara berpikir jernih.
Menemukan Kembali Jarum Kompas Kebangsaan
Lantas, di mana jalan keluarya? Apakah kita akan membiarkan kapal besar Nusantara ini karam hanya karena juru mudi dan penumpang sibuk bertengkar soal ijazah dan klaim kekuasaan?
Sejak dulu kala, takdir bangsa ini adalah bersatu dalam keberagaman, bukan seragam dalam fanatisme. Untuk merajut kembali kain kebangsaan yang robek oleh polarisasi politik ini, ada tiga langkah radikal yang wajib kita ambil:
Kembalikan Tradisi Akal Sehat dan Keterbukaan (Radical Transparency)
Perseteruan absurd soal dokumen, kepemilikan, atau keabsahan politik harus diselesaikan dengan keterbukaan, bukan retorika “tunggu tanggal mainnya”. Negara dan para pemimpin wajib membuka fakta secara terang benderang. Transparansi adalah obat paling mujarab untuk membunuh benih fitnah dan spekulasi di tengah masyarakat.
Demitologisasi Kekuasaan: Berhenti Memuji atau Membenci Secara Buta
Masyarakat—khususnya pemuda—harus keluar dari cengkeraman pemujaan figur. Siapa pun yang berkuasa, baik hari ini maupun masa lalu, adalah pelayan rakyat yang wajib dikritik jika keliru dan didukung jika benar. Fanatisme kubu hanya menjadikan rakyat sebagai serdadu murah dalam perang elit.
Reorientasi Fokus Pemuda ke Isu Rill Rakyat
Energi anak muda jangan mau dihabiskan untuk menjadi cyber army atau pendoor propaganda politisi. Tarik kembali perdebatan publik ke ruang-ruang rill: krisis lingkungan, ketimpangan ekonomi, kepastian hukum, dan kualitas pendidikan.
Belajar dari Pikiran Tokoh Pemuda Nusantara
Untuk melangkah ke depan, kita patut merenungkan kembali warisan pemikiran para tokoh pemuda yang mendirikan dan mengawal Republik ini di masa-masa kritis:
”Hanya ada dua pilihan: menjadi orang idealis yang berjuang untuk kebenaran, atau menjadi penonton yang ikut bertepuk tangan saat kebohongan dirayakan.”
— Sutan Sjahrir, Tokoh Sumpah Pemuda & Proklamator
Sjahrir mengajarkan bahwa musuh terbesar persatuan bukan perbedaan pendapat, melainkan pendeteksian informasi yang dangkal dan manipulasi emosi. Kebangkitan bangsa ini hanya bisa terjadi jika pemudanya menolak dibodohi oleh narasi partisan dan kembali mengasah ketajaman berpikir.
Sumpah Pemuda 1928 dibuat oleh anak-anak muda yang jernih pikirannya dan luas pandangannya. Sudah saatnya kita menyudahi era sumpah serapah ini, membuang fanatisme buta ke keranjang sampah sejarah, dan kembali duduk bersama menatap masa depan Indonesia dengan akal sehat yang menyala.





















