oleh Doktor Saidul Amin MA
RIAUMAG.COM
Tahun lalu saya mengunjungi pusat bundle atau barang second luar negeri yang sangat besar di sebuah Mall di Subang Jaya, Malaysia. Ada baju, kaos, jeans, sepatu, tas, jeket KULIT Dan lainnya. Setelah hampir setengah jam berkeliling, hati saya tertarik melihat tumpukan jeket kulit yang tersusun rapi. Ada di antaranya yang telah putih bercendawan. Mungkin ini efek cuaca Malaysia dan Eropa yang berbeda, sehingga saat jeket itu berada di daerah tropis justeru membuat jamur tumbuh. Awalnya iseng, saya lihat satu persatu. Eh, ada jeket kulit tipis bermerek Aigner yang bisa berfungsi ganda. Bisa jeket, tapi bisa juga sebagai jas untuk menghadiri acara formal. Saya lihat harganya cuma RM. 25, atau sekitar Rp. 90 ribu. Sayapun membelinya. Sesampai di hotel, dibersihkan lalu disemir kembali dengan cairan pembersih kulit. Kemudian dijemur di bawah sinat matahari, waduh, jeket kulit itu seakan baru kembali.
Kemarin saya diundang menghadiri Rapat Kerja Forum Rektor Universitas Muhammadiyah dan Aisyah se-Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang dibuka langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir. Turut hadir Prof Dr Muhadjir Efendi mantan Menteri Pendidikan dan Menko SDM Republik Indonesia yang juga menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah. Saat selesai acara saya menghampiri Prof Haedar untuk bersalaman dan cipika-cipiki. Seperti biasa pak Ketum hanya tersenyum melihat saya. Dan hanya kami berdua yang faham makna senyum itu. Lalu saya hampiri Prof Muhadjir, dia terkejut. “Walah, bagus jeket sampean. Pasti mahal ini. Saya saja tidak bisa beli jeket bagus macam ini”. Spontan dia berbicara seperti senapang mesin mengeluarkan pelurunya. Ini ciri khas beliau, seperti juga orang Jawa Timur yang lain, ceplas-ceplos dan apa adanya. Lalu saya dekati mantan Menteri ini dan berbisik, “Kang mas, ini jeket second yang saya beli di Malaysia”. Dia menatap saya tajam dan berkata” tak mungkin. Masa Rektor dan ustaz kondang beli barang second”. Setelah berbasa-basi, Kamipun berpisah.
Akhirnya para tamu VIP keluar dari ruangan, sayapun kembali duduk di bangku yang sudah disediakan dan berfikir, ternyata begitulah hidup. Terkadang sesuatu itu bukan dilihat dari bendanya. Tapi siapa yang membawa benda itu. Barang second yang dipakai orang tertentu itu bisa dianggap barang baru. Tapi barang asli yang dipakai orang lain, bisa duanggap KW atau palsu. Tanda tangan rakyat yang banyak terkadang perannya tidak se-efektif tandatangan pejabat yang bisa merubah segalanya. It’s not the gun, it’s the man behind the gun. Intinya, jangan terpesona dengan penampilan Zahir. Pada sisi lain, jika kita menjadi sosok yang menduduki posisi tertentu, gunakanlah untuk kebaikan. Sebab kata dan perbuatan kita akan memiliki arti berbeda dan akan menjadi contoh yang bermakna. Inilah hidup yang penuh sandiwara.






















