RIAUMAG.COM , TIMUR TENGAH———Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu perhatian dunia setelah Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengusulkan agar jalur pelayaran di Selat Hormuz segera dibuka kembali. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kelancaran perdagangan global, terutama distribusi minyak dan gas yang melintasi kawasan tersebut.
Menurut Macron, stabilitas di jalur laut strategis itu sangat krusial bagi perekonomian dunia. Ia menekankan bahwa arus logistik energi harus tetap berjalan agar pasar global tidak terguncang oleh konflik yang tengah memanas di Timur Tengah.
Namun usulan tersebut langsung mendapat reaksi sinis dari sejumlah pihak di Iran. Beberapa pejabat dan analis di Teheran menilai pernyataan tersebut tidak realistis di tengah situasi perang yang masih berlangsung di kawasan.
Mereka menyindir bahwa keamanan di Selat Hormuz tidak akan mudah diwujudkan selama tekanan militer terhadap Iran terus terjadi. Bahkan ada komentar bernada tajam yang menyatakan bahwa jika negara-negara Barat benar-benar ingin membuka jalur tersebut, mereka dipersilakan datang sendiri untuk melakukannya.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur laut paling strategis di dunia. Selat sempit yang berada di antara Iran dan Oman itu menjadi jalur utama pengiriman energi global dari negara-negara Teluk.
Diperkirakan sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi kawasan ini setiap hari, menjadikannya titik vital bagi stabilitas pasar energi internasional. Ketegangan atau penutupan jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi dan mengganggu rantai pasok global.
Para pengamat menilai bahwa jika konflik di kawasan terus meningkat dan mempengaruhi keamanan pelayaran di Selat Hormuz, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara Timur Tengah, tetapi juga oleh perekonomian dunia secara luas.





























