Riaumag.com , Australia —–Pada hari Ahad tanggal 23 Oktober 2022 Ashabul Kahfi Islamic Centre (AKIC) mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam, yang di laksanakan di rumah waqaf AKIC Sydney, Australia. Acara tersebut dimeriahkan dengan kehadiran murid-murid yang berusia dari 4 sampai 18 tahun. Kegiatan yang mereka dilaksanakan termasuk memperbanyak salawat kepada Baginda Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam. secara berjamaah.
Bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. tidak akan menerima ibadah shalat jika tidak mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam. sebagaimana disebuntuk an didalam sebuah hadis yang maksudnya “Shalatlah sebagaimana Kamu melihat aku shalat” seperti yang disampaikan pada pengarahan acara oleh Founder AKIC Dr. Teuku Chalidin Yacob, disamping itu juga mengingat di bulan Rabiul Awal sebagai napak tilas sejarah kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam.
Sambil mendengar arahan dari koordinator acara Ustadz Teuku Muhammad Ziyad bahwa sirah Rasul merupakan momentum untuk menumbuhkan dan memotivasi anak-anak agar lebih giat, tekun dan istiqomah slalu belajar membaca Alqur’an dan sejarah kehidupan Rasulullah SAW. Teuku Muhammad merupakan murid Ashabul Kahfi waktu pertama awal-awal didirikan pada tahun 1998.
Para peserta, pemuda pemudi sangat semangat berselawat sehingga berdiri dalam lingakaran, dan ketika bertambah ramai anggota yang ikut hadir maka para fasilitator telah menyiapkan kegiatan pawai sebagaimana yang dilaksanakan setiap tahun bila Bulan Rabi-ul Awal tiba. Prosesi pawai mulai dari Rumah Waqaf AKIC dimana anak2 yang berasal dari berbagai bangsa berbaris sambil pegang banner Ashabul Kahfi dan berjalan ke tempat umum.
Bass dari speaker nyaring ke seluruh taman, hari Ahad merupakan hari istirahat bagi masyarakat Australia, seketika semua pengunjung taman Wiley Park tersebut berhenti kegiatan dan ikut serta menonton pawai. Semangat yang luar biasa dari anak-anak tersebut membuat orang-orang non muslim yang ada di taman tersontak teralih perhatian pada anak-anak tersebut, mereka sangat kagum melihat nilai islam yang di tampilkan, dengan beragam bangsa suku adat yang berbeda tetapi kita bersatu dalam tujuan yang sama, melakukan hal-hal baik bersama dan saling terkait antar satu dan lainnya. Sungguh terharu pertunjukan yang di laksanakan dimana anak-anak berumur 5 tahun, berbusana Islam berpeci Aceh yang bersimbulkan AKIC dan wajah ceria2 bersorak ke dalam microphone “Salli wa Sallim Yaa Rabbi – Ya Rabbi!!”
Populasi Muslim di seluruh negara Australia tidak mencapai 3%, akan tetapi Syiar Agama Islam, Selawat atas Nabi, serta kebebasan dan hak pribadi dalam merayakan Maulid Nabi, menjadi sebuah kemuliaan bagi Orang Islam di Australia.
Bulan September merupakan Bulan Semi, dimana cuaca Sydney tidak bisa ditebak. Awal pagi cerah matahari tiba-tiba di tengah perjalanan hujan rintis mulai menurun. Akan tetapi hujan langit pun tidak mampu memadamkan api semangat dari pemuda pemudi, semua yang hadir terlihat makin bersemangat dengan teriakan anak-anak yang makin meningkat suara sambil berlari kembali ke Rumah Waqaf untuk berlindung dari hujan.
Tiba di Markaz kembali, anak-anak semua berkumpul dan saling membagi “lolly bags” sebelum masuk ke Musalla untuk mendengar anekdot-aneknot dari alumni Ashabul Kahfi. Yang pertama Isyak Bahrum, 26 tahun, putra darah campur dari bapak orang Medan dan ibu orang asli Australia, bercerita ke murid betapa bersyukur dia mengikut ngaji di masa kecilnya. Beliau membukakan isi hati, bahwa ketika pertama mulai bekerja sempat merasa minder untuk meminta salat. Tapi mengingat pelajaran di masa kecil beliau beranikan diri dan sekarang sudah mempunyai pekerjaan yang mengizinkan dia salat kapanpun saja.
Bambang Durrani, 26 tahun, putra asal Meulaboh yang lahir dan besar di Australia, menasehatkan kepada murid-murid untuk selalu menjaga persahabatan di tempat mengaji AKIC karena persahabatan di tempat mengaji bakal kekal hingga dewasa kelak. Bakay Kay, 24 tahun, putra asal Burma besar di Australia sharing dengan murid-murid betapa sering dia di masa kecil selalu kena hukuman karena sikap lakunya. Tapi sekarang sangat bersyukur karena Teuku Syiek (panggilan anak-anak AKIC) kepada Founder AKIC Dr Teuku Chalidin Yacob, atas ketegasan dalam mendidik meraka.
Diakhiri dengan Tausiah oleh Sandy Muchtarudin, 29 tahun, putra asal Padang lahir dan besar di Australia, tentang Surat Adh-Dhuha serta asbabul nuzul yang di turunkan kepada Rasulullah Saw, di tahun sedih baginya. Semua pemuda, koordinator acara, pembawa acara dan motivator yang berbagi pengalamannya merupakan alumni Ashabul Kahfi Langguaege School. Mereka turut hadir sebagai murid senior di acara Maulid hari ini khususnya berbagi pengalaman pribadi selama mereka menuntut ilmu dan belajar membaca Alquran di AKIC, yang mana informasi tersebut bertujuan untuk menyemangati adik-adik yang masih belajar membaca Al-Qur’an, Iqra’ dan Islamic Studies.
Diakhir acara ini ibu2 pun semangat menghidangkan makanan-makanan istimewa dan kue-kue klasik dari Timur dan Barat. Daging dan sosis BBQ (daging bakar) tentunya tak ketinggalan karena merupakan makanan khas Australia. Tak terhingga rasa kesyukuran dan terimakasih kepada para ibu-ibu yang hadir dengan kreasi hidangannya dan juga mempersiapkan anak-anak dengan tampilan muslimwearnya yang indah serta ikut serta dalam jalan pawainya.
Mengingatkan suasana maulid di kampung halaman kepada generasi sekarang di negara minoritas muslim sudah menjadi sebuah realita. Semoga Allah melancarkan setiap kegiatan ataupun acara-acara kedepannya untuk menuju Ridha Allah ta‘ala.
Wassalam
Wollongong, 25 Oktober 2022





























