Oleh : Mardianto Manan
RIAUMAG.COM ——Ada satuhal yang tidak kalah penting untuk kita evaluasi pada hari jadi ProvinsiRiau saat ini yakni : budaya.
Riau bukan hanya minyak.
Riau bukan hanya sawit.
Riau bukan hanya APBD.
Riau adalah Melayu.
Melayu adalah bahasa.
Melayu adalah adat.
Melayu adalah kesantunan.
Melayu adalah marwah.
Melayu adalah filosofi hidup yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, agama dan masyarakat.
Karena itu, pembangunan Riau tidak boleh membuat kita kehilangan identitas.
Jangan sampai tanjak hanya muncul ketika pejabat menghadiri acara resmi.
Jangan sampai pantun hanya terdengar ketika pembukaan seremoni.
Jangan sampai budaya Melayu hanya menjadi dekorasi panggung.
Budaya harus menjadi karakter dalam pemerintahan.
Kalau Melayu mengajarkan amanah, maka birokrasi harus amanah.
Kalau Melayu mengajarkan malu, maka pejabat harus malu melakukan korupsi.
Kalau Melayu mengajarkan menjaga alam, maka pembangunan harus menjaga hutan dan sungai.
Kalau Melayu mengajarkan musyawarah, maka pemerintah harus mau mendengar rakyat.
69 Tahun Kemudian, Apa yang Kita Wariskan?
Para pejuang Riau dahulu memperjuangkan sebuah provinsi agar rakyat memiliki kesempatan menentukan masa depannya sendiri.
Kini generasi kita mendapatkan kesempatan itu.
Maka jangan kita wariskan kepada anak cucu hanya:
sumur minyak yang menipis,
hutan yang menyusut,
sungai yang tercemar,
birokrasi yang berbelit,
politik yang transaksional,
dan kasus hukum yang berulang.
Wariskan kepada mereka sesuatu yang jauh lebih berharga:
Riau yang berintegritas.
Riau yang ekonominya tumbuh tetapi lingkungannya tetap hidup.
Riau yang kaya tetapi rakyatnya sejahtera.
Riau yang pemerintahannya kuat tetapi tidak sewenang-wenang.
Riau yang hukumnya tegak tanpa pandang bulu.
Riau yang modern tetapi tidak kehilangan Melayu.
Dari Perjuangan Menjadi Amanah
Enam puluh sembilan tahun lalu, para pendahulu kita berjuang mendirikan Riau.
Hari ini tugas kita bukan lagi mendirikan provinsi.
Tugas kita adalah memperbaiki Riau.
Kalau dahulu perjuangan mereka adalah memperoleh kewenangan, maka perjuangan kita sekarang adalah memastikan kewenangan itu digunakan dengan benar.
Kalau dahulu mereka berjuang agar Riau diakui, maka hari ini kita harus membuat Riau dihormati.
Dihormati bukan karena minyaknya.
Bukan karena sawitnya.
Bukan karena luas hutannya.
Tetapi karena manusianya bermartabat, pemerintahannya bersih, ekonominya berkeadilan, budayanya hidup dan alamnya terjaga.
Itulah makna kemerdekaan daerah yang sesungguhnya.
Selamat Hari Jadi Provinsi Riau ke-69
9 Agustus 1957 – 9 Agustus 2026
Bersatu dalam Keberagaman, Maju dalam Pembangunan.
Tetapi izinkan saya menambahkan satu kalimat:
“Jangan hanya maju membangun Riau. Majulah dengan menjaga marwah, keadilan, hukum, budaya dan alam Riau.”
Sebab Riau bukan sekadar wilayah di peta.
Riau adalah amanah sejarah.
Dan amanah itu hari ini berada di tangan kita semua.
Selamat Hari Jadi Provinsi Riau ke-69.
Mari kita jaga Riau, bukan sekadar untuk hari ini, tetapi untuk generasi yang belum lahir.
Mardianto Manan
Anggota Majelis Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR)


















