RIAUMAG.COM , JAKARTA——–Perbandingan harga antara drone tempur Iran dan robot anjing milik kepolisian mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Netizen menyoroti perbedaan harga yang sangat mencolok antara drone Shahed buatan Iran yang diperkirakan bernilai sekitar Rp320 juta dengan robot anjing canggih milik polisi yang disebut-sebut mencapai Rp3 miliar per unit.
Drone kamikaze Shahed-136 menjadi perhatian publik karena dikenal murah namun memiliki daya hancur tinggi. Drone ini beberapa kali dilaporkan digunakan Iran dan sekutunya dalam berbagai konflik di Timur Tengah dan dinilai efektif menekan sistem pertahanan musuh dengan biaya yang relatif rendah.
Dalam sejumlah analisis militer, drone jenis ini disebut mampu menyerang target strategis dari jarak jauh dengan sistem navigasi sederhana, sehingga produksinya bisa dilakukan dalam jumlah besar. Efisiensi biaya inilah yang membuat drone Shahed kerap disebut sebagai “senjata murah yang mematikan”.
Sebaliknya, robot anjing yang digunakan oleh kepolisian merupakan perangkat robotik taktis yang dirancang untuk operasi keamanan, seperti penjinakan bom, patroli area berbahaya, hingga pemantauan situasi tanpa harus mempertaruhkan keselamatan personel. Salah satu model yang sering dibicarakan publik adalah Ghost Robotics Vision 60, robot berkaki empat yang dilengkapi kamera, sensor, serta kemampuan bergerak di medan sulit.
Meski memiliki teknologi tinggi, harga robot anjing yang bisa mencapai miliaran rupiah memicu perdebatan di kalangan netizen. Banyak yang membandingkan biaya tersebut dengan drone Shahed yang dianggap jauh lebih murah namun terbukti efektif dalam konflik militer, termasuk dalam ketegangan antara Iran, United States, dan sekutunya Israel.
Di media sosial, sebagian pengguna berpendapat bahwa teknologi murah seperti drone Shahed menunjukkan bagaimana strategi militer modern tidak selalu bergantung pada perangkat mahal. Namun di sisi lain, pakar keamanan menilai kedua teknologi tersebut memiliki fungsi yang sangat berbeda.
Drone Shahed dirancang sebagai senjata serang, sementara robot anjing lebih berperan sebagai alat pendukung operasi keamanan dan penyelamatan. Karena itu, membandingkan keduanya secara langsung dinilai tidak sepenuhnya tepat meskipun perbedaan harga yang ekstrem tetap menarik perhatian publik.
Perdebatan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana teknologi militer dan keamanan modern terus berkembang, dengan berbagai pendekatan mulai dari sistem murah yang diproduksi massal hingga perangkat robotik berteknologi tinggi yang berfungsi melindungi aparat di lapangan.




























