RIAUMAG.COM , PEKANBARU——Kegiatan Diskusi Tokoh Refleksi Akhir Tahun Forum Intelektual Muslim Riau yang digelar di Auditorium Pascasarjana Universitas Islam Riau (UIR) pada Sabtu, 27 Desember 2025, menjadi wadah penting bagi para tokoh intelektual dan aktivis lingkungan untuk merefleksikan krisis ekologis yang semakin mengkhawatirkan. Acara yang dibuka oleh Rektor UIR, Assoc. Prof. Dr. Admiral, menekankan bahwa bencana alam seperti banjir dan longsor bukanlah fenomena alam semata, melainkan dampak dari kerusakan ekosistem yang dipicu oleh kebijakan pembangunan yang berfokus pada eksploitasi sumber daya. Harapan besar diletakkan pada transformasi kebijakan yang lebih berkelanjutan dan adil terhadap lingkungan dan masyarakat.

Pembicara-pembicara utama menyampaikan analisis mendalam mengenai akar permasalahan. Ahlul Fadli dari WALHI Riau menyoroti dominasi oligarki dalam pengambilan keputusan lingkungan, yang menyebabkan ekspansi perusahaan tambang dan perkebunan terus merusak hak-hak masyarakat adat, dengan ratusan konflik agraria yang belum terselesaikan. Prof. Dr. Anas Puri menguraikan aspek teknis, menjelaskan bahwa hutan berfungsi sebagai penahan air hujan sebesar 70–90%, dan perubahan fungsi lahan menyebabkan ketidakseimbangan hidrologi yang berakibat pada banjir dan kekeringan berulang. Dalam perspektif sistemik, Prof. Dr. Ardiansyah dari Universitas Lancang Kuning menyatakan bahwa kapitalisme ekologis telah memperdayakan alam menjadi komoditas, dengan peringatan bahwa bumi bisa jadi tidak bertahan lebih dari 10–15 tahun ke depan jika tren ini terus berlanjut.
Pada penutup, Ir. Muhammadun dari ICMI Riau menawarkan wawasan keislaman yang krusial, menegaskan bahwa perusakan alam adalah bentuk kezaliman terhadap diri manusia dan Tuhan, serta menekankan perlunya pendekatan preventif dan preemptive dalam pengelolaan sumber daya alam. Ia menegaskan bahwa sumber daya alam (SDA) adalah milkiyah ammah—hak bersama yang harus dikelola secara adil dan bertanggung jawab. Diskusi diakhiri dengan seruan bersama untuk memperbaiki pemikiran keilmuan dan melahirkan ilmu yang shahih, sebagai fondasi utama bagi keberlangsungan bumi dan kesejahteraan umat.






















