RIAUMAG.COM , PEKANBARU – Sejak Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 di Riau, Provinsi Riau selalu bertengger di 10 besar klasemen perolehan medali. Tapi pada PON 2024 yang ditutup malam tadi untuk kali pertama Kontingen Riau terlempar dari 10 provinsi terbaik di Tanah Air. Riau hanya finish di urutan 12 dari 39 daerah peserta PON Aceh-Sumatera Utara 2024.
Di tiga edisi sebelumnya, PON 2021 Papua, Riau urutan delapan dengan 21 emas, 25 perak, dan 21 perunggu. Di PON 2016 Jawa Barat, Riau urutan 7 dengan 18 emas, 26 perak, dan 27 perunggu. Saat PON digelar Riau, Lancang Kuning berada pada urutan enam dengan 43 emas, 39 perak, 51 perunggu.
Berangkat dengan ekspektasi tinggi, Kontingen Riau sebenarnya optimistis tetap bisa menembus 10 besar. Target yang dipasang, merebut 25 medali emas. Tapi, hasilnya Riau hanya mampu mendapat 21 medali emas, 22 perak dan 37 perunggu. Riau terpaut 2 perak dari Banten yang berada di urutan 11 dengan koleksi 21 emas, 24 perak, 33 perunggu. Riau kalah satu medali emas dari Lampung yang berada di posisi 10 dengan torehan 22 emas, 16 perak, dan 30 perunggu. Perolehan emas tahun ini sama dengan torehan pada PON XX Papua XXI 2021. Kala itu, Riau berada di peringkat 8.
Di PON kali ini, juara umum diraih Jawa Barat dengan torehan 195 emas, 163 perak, dan 182 perunggu. Urutan kedua DKI Jakarta 184 emas, 150 perak, dan 145 perunggu. Peringkat tiga Jawa Timur dengan 146 emas, 136 perak, dan 143 perunggu.
Ketua Umum KONI Riau, Iskandar Hoesin menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Riau karena tidak bisa memenuhi target masuk 10 besar PON XXI Aceh-Sumut. Apalagi, KONI Riau sudah semaksimal mungkin dalam mempersiapkan kontingen menuju PON XXI. Begitu juga dengan seluruh cabang olahraga yang turun bertanding, juga sudah berjuang dan maksimal dalam mencapai prestasi meraih medali.
“Pertama saya menyampaikan permohonan maaf tidak bisa mencapai terget 25 medali emas dan tidak masuk 10 besar PON XXI Aceh-Sumut. Tanggung jawab ini ada di tangan saya sebagai Ketua Umum KONI Riau. Tapi kami tetap bersyukur medali yang kita raih tidak turun. Dalam kurun waktu 2,5 tahun kami memaksimalkan waktu menyiapkan Kontingen Riau menuju PON XXI,” ujarnya.
Iskandar Hoesin mengatakan, tidak tercapainya target 25 medali emas ini karena lebih setengah dari 18 cabor unggulan yang ditargetkan meraih medali emas gagal terpenuhi. Di antaranya ada angkat besi, binaraga, sepaktakraw, paramotor, terjun payung, dayung, muaythai, barongsai, dan kempo.
Ia mengungkapkan, tidak satupun dari sembilan cabor ini meraih medali emas, walaupun sudah menargetkan medali emas. Bahkan ada yang sama sekali tidak menyumbangkan medali. ‘’Tapi inilah perjuangan sudah maksimal. Ada juga atlet kita yang setiap PON meraih medali emas, juga gagal meraih medali,” jelasnya.
Iskandar Hoesin mengapresiasi cabor yang tidak ditargetkan medali emas pada ajang PON secara mengejutkan dapat medali emas. Salah satunya adalah ski air yang meraih dua medali emas. Senam juga berhasil melebihi target medali emas. Begitu juga dengan anggar juga melebihi target satu medali emas.
“Ini menjadi pelajaran kita ke depan dalam meraih prestasi terbaik,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut Iskandar Hoesin tidak ingin menyalahkan siapa-siapa terkait kegagalan cabor dalam mencapai target medali emas. Karena dirinya juga menyaksikan langsung pertandingan cabor yang ditargetkan medali. Atlet, pelatih, dan pengurus sudah berusaha mencapai target namun gagal. “Sama-sama kita lihat di lapangan, betapa atlet kita sudah bertanding dan berjuang maksimal, sampai memeras keringat. Atas perjuangan mereka itulah saya berterima kasih kepada semua atlet Riau. Selamat dan sukses atas capaian prestasi yang sudah kita raih bersama,” ucapnya.
Ia menambahkan ada beberapa cabor unggulan Riau yang diprediksi bakal meraih medali emas pada partai final namun gagal dan hanya meraih medali perak. Masih ada faktor nonteknis yang membuat atlet Riau gagal meraih medali emas, namun tidak begitu banyak. Contohnya kempo, dan angkat berat.
“Di hari terakhir pertandingan partai final cabor andalan kita yang diprediksi meraih emas gagal tercapai. Mungkin ini karena faktor nonteknis. Walaupun pelatih dan manajer sudah melakukan protes namun gagal. Inilah bentuk perjuangan kita. Sekali lagi kami tidak mencari kambing hitam kegagalan ini. Ini menjadi evaluasi bersama,” ungkapnya.
Iskandar Hoesin juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung Kontingen Riau pada PON XXI Aceh-Sumut. “Terima kasih kepada Pemprov Riau dan seluruh pihak yang mendukung Kontingen Riau pada PON XXI. Pak Pj Gubri yang juga hadir di Aceh memberikan motivasi kepada atlet. Pak Sekdaprov SF Hariyanto juga hadir langsung di Medan memberikan motivasi dan semangat kepada atlet yang tengah bertanding,” ujarnya.(dof)































